Monday, 30 December 2013

40 HARI part 1


Lebih dari dua jam Uliya duduk memeluk lutut di salah satu sudut. Decitan suara tikus, lalu lalang kecoa dan kawan serangga tidak dihiraukan sedikitpun. Matanya menyapu ruas kegelapan. Tak ada sedikit ventilasi di sana. Ia merasa sedikit sesak dengan debu sekitarnya namun, ia jauh lebih tenang. Sangat tenang dan mulai merasa nyaman dengan kelembaban.
Ada hal yang lebih menakutkan di luar sana. 
Tok-tok-tok ...  tiba-tiba muncul suara ketukan. Uliya memeluk erat lututnya. Nafasnya teregah-engah dan ritme jantungnya mulai tak senada. Ia berusaha diam tak bersuara.
Sepasang bola mata mengintip di balik lubang pintu kayu yang sudah rapuh dan berayap.  Gelap dan tak ada yang bisa dilihat. Sunyi. Ia mulai khawatir dengan jawaban ketukannya.  Ia berusaha mendobrak  namun tetap nihil. Ia mengambil sebatang puing kayu jati yang ada di sekitarnya. Dipukulnya gagang pintu berkarat itu hingga ia bisa melangkah masuk ke dalam ditemani hawa dingin yang menyatu dengan hening.
Cahaya dari ponsel yang di genggamnya membantu penerangan di dalam ruangan berdebu itu. Sambil melangkah perlahan, Ia menembus jaring laba-laba yang menghalangi pandangannya. Hanya ada tumpukan bangkai kursi dan meja kayu yang sudah rapuh dan tidak terpakai.
 “Kamu di mana? Jangan takut. Aku orang baik. Ayo kemari aku cuman ingin membantumu keluar dari sini,” teriaknya.
Senter ponselnya menangkap sesosok berambut panjang yang bersembunyi di salah satu sudut ruangan tak berpenghuni itu. Sosok berpakaian putih itu terhalangi oleh sebuah rak besi yang sudah berkarat. Krekkkk.... ia mendorong rak itu sekuat tenaga. Semakin dekat dengan sosok berambut panjang yang sedang duduk tertunduk. Ia mendekat. Semakin dekat.
“Hei, kamu baik-baik aja kan,”
Uliya tidak menjawab. Ia berdiri membersihkan seragam putihnya  dan mereka berjalan keluar.
“Hei.. tunggu,”
Uliya menghentikan langkahnya.
“Aku Yodha, siapa nama kamu?” Yodha mengulurkan tangannya namun Uliya hanya melirik name-tage seragamnya. Yodha pun membaca rangkaian kata di seragam gadis itu.
Uliya menatap arloji ditangannya. Tepat pukul 18.00. ia berjalan melewati koridor kelas. Menatap kucuran air yang berjatuhan dari atas atap bangunan sekolahnya itu.
“Diluar masih hujan, aku antar pulang yah,” Uliya menoleh ke arah suara itu. Cowok yang menyelamatkannya terkunci di gudang tadi, ternyata mengikuti langkahnya.
“Mereka emang sering ya nyakitin kamu? Kok kamu diam aja sih?” tanya Yodha. Sambil menyetir, matanya tak berpaling dari lampu jalanan yang diguyur hujan deras.
“Bukan urusan kamu,”
“Kamu tu aneh yah. Di kunci di gudang bukannya minta tolong malah diem aja,”
“Aku suka ruangan itu,”
“Kamu tau? Banyak murid  yang bilang kalau gudang itu berhantu. Aku tadi khawatir kamu dimakan sama hantu,”
“Hantu gak bisa makan manusia,”
***
Bel sekolah sudah berdering sedari tadi. Pak Hasan, guru matematika terkiller itu belum juga memasuki kelas.  Suasana kelas masih gaduh. Sejumlah murid bercanda gurau dengan sekumpulan geng-nya. Begitupun Arka and the geng. Yah ... Arka, Luna, Keysa dan Aldo.  Empat sekawan pembuat onar itu tertawa lepas membicarakan seseorang yang baru saja jadi korban keusilannya kemarin.
“Kalau dia beneran dimakan setan gimana?” tanya Keysa.
“Anggap aja tumbal sesajen buat penunggu di sana,” tutur Arka sambil tertawa.
“Hahhaa.. sialan kalian emang gila,” seru Luna.
“Justru anak itu yang gila. Suruh siapa sering kesurupan gak jelas di kelas. Gak ada yang mau temenan sama orang freak kayak dia,” ungkap Arka.
Sepasang sepatu berjalan perlahan memasuki ruang kelas 12 IPS 1. Seluruh siswa tersontak kaget. Keysa menyiku Arka. Matanya terbelak.
"Gak mungkin!" teriak Arka.
Suasana kelas mendadak hening.
"Siapa yang berani menolong si anak setan ini keluar dari gudang?"  Teriak Arka sambil memukul meja.
"Ka, semua murid enggak ada yang berani sama elu. Gak mungkin mereka berani bantuin si anak setan ini keluar," kata Luna.
Meski agak sedikit takut, Uliya tetap berjalan mendekati bangkunya di sudut paling belakang.  Puluhan pasang bola mata terus menatapnya.
"Namanya juga anak setan. Pasti setan yang ngebantuin dia," tukas Keysa.
Uliya pura-pura tidak mendengar ocehan Arka and the geng. Ia mengeluarkan buku pelajaran matematika. Anis dan Lala yang duduk di depannya menoleh bebarengan. Lala berbisik pelan, entah sesuatu apa yang dibicarakan.
"Tak peduli apa dan siapa aku hanya ingin belajar!" teriak Uliya dalam hati.
Pak Hasan masuk ke dalam kelas.  Pelajaran pertamapun di mulai. Semua murid tertib mendengarkan. Termasuk Arka and the geng.
Arka.
Anak bungsu si kepala yayasan. Gayanya rapi dan tidak terlihat urakan. Hobinya bermain kubik dan main Uno. Nilainya selalu bagus dan sering dipuji oleh para guru. Yah.. dia memang pintar. Pintar menyontek sampai – sampai guru pun tak ada yang mengetahuinya. Mereka selalu mendapatkan reputasi baik dihadapan guru- guru. Arka and the geng emang sekawan yang paling berkuasa di sekolah. Mereka sering menjahili murid-murid. Tak ada yang berani melawan dan mengadu. Mereka yang menjadi korban dan saksi lebih memilih diam.
***
"Hei, kamu anak baru yah? kok aku baru liat?" Sapa Luna duduk bergeser mendekati seseorang yang sedang duduk sendirian di bangku taman.
"Hei, aku Yodha. Kelas IPA 4. Pindahan dari Bogor," balas Yodha sambil mengulurkan tangan. Kali ini ada yang membalas jabatan tangannya.  
"Liat deh Luna mulai ganjen sama anak baru," diam-diam, Keyza dan Aldo memperhatikan tingkah Luna yang mendekati cowok tinggi putih itu. Sementara Arka sibuk asik dengan rubiknya.
"Wah murid baru, perlu kita kerjain tuh," tutur Arka ikut nimbrung mendengarkan.
" Kamu kelas apa?" tanya Yodha pada Luna. Luna tak henti memasang tersenyum memandang wajah Yodha. Ia terpesona dengan ketampanan Yodha.
"Hei.. ," seru Yodha sambil melambaikan tangannya di depan wajah Luna.
"iii.. iya kenapa?"
"Kamu kelas apa?" tanya Yodha mengulang.
"Kelas 12 Ips 1," jawab Luna tetap dengan semburat senyuman manisnya.
"Kenal sama Uliya?"
Pertanyaan Yodha membuyarkan senyuman Luna.
"Anak setan itu? Gak kenal tuh," ekspresi wajah Luna berubah. Ia langsung menopang dagu.
"Gak kenal tapi kok ngatain anak setan?"
"Abis dia sering kesurupan sih,"
"Hah? Kesurupan?"
"Iya... matanya tiba-tiba melotot, suaranya menggeram sambil teriak-teriak gak jelas,"
***
Bel sekolah berdering nyaring. Gerombolan siswa keluar dari kelasnya masing-masing. Uliya berjalan sendirian melewati lorong koridor. Seseorang memanggil. Suaranya memang familiar namun tak tertarik sedikitpun Uliya untuk menoleh ke belakang.
"Hei, tunggu! pulang bareng lagi, yuk?"
Uliya hanya diam dan melanjutkan melangkah.
"Hei.. "
"Namaku Uliya bukan hei. Mendingan kamu jauh-jauh dari aku. Aku mau pulang sendiri,"
"Aku cuman mau temenan sama kamu,"
"Aku gak butuh temen!"


***
Uliya merebah tubuhnya terlentang sambil menatap bilik langit atap rumahnya. Sesuatu yang aneh mengganggu pikirannya. Yah, bayang wajah Yodha selalu datang merasuki pikirannya.  Ia berusaha mengelak. Berusaha menjauh dari laki-laki itu. Yah, laki-laki yang tiba-tiba datang menolong ketika Arka and the geng menguncinya di gudang belakang sekolah.
Sekelebat bayangan hitam terlintas membuyarkan lamunannya. Hembusan angin besar tiba-tiba masuk dari jendela. Uliya pun segera menutup jendela kamarnya. Ia mematikan lampu kamar dan membantingkan tubuhnya di kasur. Memejamkan matanya. Berbaring terlentang.
Baru saja tertidur beberapa jam, tiba-tiba sesuatu yang tak terliat menahan tubuh mungilnya. Ada yang mengikat erat hingga membuatnya susah bergerak. Nafasnya sesak, seakan ada makhluk tidak terlihat yang menginjak dadanya. Uliya membuka mulutnya dan hendak berteriak, tidak ada suara yang keluar. Seseorang sedang mencekik leherku, pikirnya.
Ada sesuatu yang tidak beres.
Ia panik dan ketakutan setengah sadar. Ia terus berusaha memaksa tubuhnya untuk bangun. Uliya bisa terbangun dan duduk. Sesuatu yang mengerikan itu tidak hanya berhenti disitu. Ketika ia menoleh kebelakang, ia melihat tubuhnya masih terbaring.
"Astaga!!!" Uliya berteriak dalam hati.
Raganya terlepas dari sukmanya. Uliya terus berteriak dan memejamkan matanya.
Ibu langsung datang menghampiri kamarnya. Uliya terbangun sadar. Sambil menangis ia memeluk tubuh Ibunya erat.
"Kamu eureup-eureup lagi ya,"
"Ibu.. tadi aku liat tubuhku lepas," ungkap Uliya sambil menangis terbata-bata. Ketakutannya belum hilang.
"Kamu cuman mimpi itu teh! Makanya kalau mau tidur harus berdoa dulu sambil baca-bacaan," Ibu mengusap rambut anak semata wayangnya itu.
Wajah Uliya pucat dan berkeringat.
"Besok kamu masuk pagi kan. Lekas istirahat,"
"Ibu tidur di sini yah. Temenin Uliya tidur,"
Ditemani sang bunda, Uliya pun sedikit merasa tenang. iya mulai terlelap dan terjaga. Baginya tidak ada yang bisa membuatnya nyaman selain dekapan dan kehangatan dari orang yang melahirkannya itu.
Orang yang paling Uliya sayangi. Satu-satunya. Setelah ayahnya pergi meninggalkannya dan entah berada dimana keberadaannya. Tak pernah iya tunggu dan tak pernah ia harapkan orang yang menelantarkan ia dan ibunya di rumah sederhana itu. Uliya masih bersyukur bisa mendapatka beasiswa untuk bersekolah dengan dinafkahi oleh keterampilan tangan ibunya dalam menjahit pakaian.
***
Seisi kelas ribut mengaduh. Suara teriakan itu semakin keras. Beberapa murid memegangnya. Ada yang berhamburan keluar kelas sambil berteriak ketakutan. Kelas tetangga dan kelas lainnya mulai kepo dengan keributan itu.
"Ada apa sih?" tanya Yodha.
"Biasa, paling si anak setan itu kesurupan lagi,"
"Kesurupan kok jadi hal yang biasa? Anak setan siapa? Uliya?"
"Iya.. siapa lagi,”
“Kok bisa sih?”
“Namanya juga anak setan,”
“Kesurupan itu bukan karena setan. Tapi emang kondisi psikologisnya aja lemah,”
“Terserah deh percaya atau engga. Aku sih ngasih tau aja jangan sampe deh loe deket-deket sama dia entar setannya malah nular lagi,”
“Aku gak percaya setan,”
***

(dan belum kelar-kelar tulisannya :( )


No comments:

Post a Comment

Comments system

Disqus Shortname

Navigation-Menus (Do Not Edit Here!)

Instagram Photo Gallery