Friday, 20 October 2017

Sheila on 7 di Music Box Cikarang, Karisma-nya Bikin Terkesima!



Jadi ceritanya nih, salah satu partner kerjaku yang namanya Puji ngajakin buat nonton Sheila on 7 di Debox Cafe yang bertempat di Plaza JB Cikarang, Kamis malam, 19 Oktober 2017.
Sebenernya aku gak begitu excited banget sama konser musik. Tapi, pengalaman juga buat jadi seorang penonton musik. Apalagi di Kota industri yang belum genap lima bulan ini aku singgahi.
Iya, pengalaman jadi penonton. Karena, sebelumnya pasti dateng buat liputan. Foto dan wawancara. klo gak stay di backstage, front stage dan gak pernah ada di tengah desakan penonton. Sekarang, karena lagi vakum jadi seorang jurnalis untuk fokus jadi marketing medis, aku mencoba merasakan menjadi seorang penonton pada umumnya.
Sheila on 7. Band ter-favorite sepanjang masa ini emang paling bisa menghipnotis para penikmat musik.
Industri musik boleh kedatangan banyak pemusik baru yang lebih segar, tapi Sheila on 7 tetep paling cetar...
Terbukti, tiket VVIP dan VIP pun ludes terjual dari jauh jauh hari. Kitapun kurang gercep buat beli tiket VVIP. Alhasil, dapet yang VIP.
Debox Cafe tepat sekali mendatangkan guest star dan sukses memikat para remaja Cikarang khususnya yang emang lagi haus akan hiburan musik seperti ini.
Meski dominan anak muda Cikarang, ada juga ko penonton dari beberapa kota terdekat lain, seperti, Jakarta, Bekasi, Karawang, Garut, Jogja, bahkan dari Sumatera pun ada. Jelas, Cikarang kan banyak dipadati para perantau.
Termasuk Puji. Kawanku dari kota Pontianak. Cewek kelahiran 1994 ini paling semanget buat nonton konser SO7 untuk melepas kegalauan hatinya. 
Puji udah dandan cantik dan banyak yang melirik. Dilirik orang terus digibahin "dih cantik-cantik ko jalannya sendirian jomblo kali ya,"
Hahaaa. Tapi bodo amat sih kita mah apa atuh, Ukhti. Jomblo sampai hallal.. #okeskip
Kita sempet cemas, bukan karena gak ada pasangan. Tapi karena tadi sore udah hujan.
Well, akhirnya konser semi outdoor ini berjalan lancar tanpa kebasahan.
Sekitar 300 penonton lebih kali ya.. Memadati arena Plaza JB.. 
Ternyata, atmosfer jadi penonton ditengah tengah kerumunan, berdesakan itu berkesan dan menyisakan banyak cerita.
Jadi kan sebelum SO7 main, ada band" pembuka nih di music box ini. Seperti Rock Station, Lahila dan fraustic. 
Sambil menunggu jodoh, eh penampilan SO7, aku memperhatikan orang sekeliling. Termasuk remaja berkerudung disebelah. Ternyata doi ini lagi sibuk posting. Sehabis bikin status di bbm "yeayyy nonton sheila on 7," pake titik dua bintang, terus dia bikin lg status di ig story, trus bikin di fb, di path, di whasap story dan semua media sosialnya. Betapa rajinnya gadis ini. Melebihi seorang reporter yang selalu melaporkan berita ter update. Dia udah mirip kayak reporter banget lah. Sama sama memposting berita penting. Bedanya, kalau reporter penting untuk publik. Kalau dia yaaaa penting untuk si pemilik xixixi... 

Pukul setengah sepuluh lebih, para bapak-bapak mulai beraksi dengan lagu pembukanya "Selamat Datang" dan disambut oleh teriakan histeris para penonton. Semua mengangkat ponselnya dan mulai merekam penampilan dari band terkece asal Yogyakarta itu. Termaksud si egois yang mantengin tongsis nya ke atas nutupin pandangan penonton dibelakangnya.
Sejumlah lagu lain pun dilantunkan, menambah animo penonton terutama para Sheila Genk. Para penonton ikut bernyanyi tak peduli suara mereka mengganggu atau tidak penonton sebelahnya. Mereka melompat lompat tak peduli kakinya menginjak penonton sebelahnya. Saling siku, mosing, headbang hahaa ga sih. Emang nya nonton hardcore.
Pokoknya banyak yang dibuat baper sama penampilan dari SO7 ini.
SO7 emang cerdas menjadikan lagu-lagunya sebagai soundtrack momen kehidupan para penggemarnya. Apalagi bagi mereka yang selalu menjadi pemuja rahasia. Ngerasa lagu ini gue banget, katanya.
"Mungkin kau takkan pernah tahu
Betapa mudahnya
Kau untuk di kagumiii,"
Na.. Na.. Na... Na.. Na.. Na.. Naaaa
Suasana ngedadak romantis. Apalagi, ketika Duta meminta penonton menyalakan flashlight di handphone nya.
Dan....
Hey mana Puji?
Sepertinya dia ingin terus melompat lebih tinggi. Iya melompat karena penonton depan mukanya dia itu lebih tinggi badannya. Jadi kehalangin dan beberapa kali kita iseng pengen nyenggol pantat orang depan yang lagi mesra mesraan sama pacarnya.
Lalu kita bernyanyi syahdu, betapa... Hancurnyaaaaa hati dan jiwaku....

Meskipun makeup udah luntur, keringetan, sepatu becek gak karuan, muka berantakan, rambut dan kerudung  acak acakan, tapi hati merasa termanjakan.  so far kita seneng banget dan puas banget dengan acara Music Box SO7 ini. Yeaaaay we're very enjoy the show.. (@reginaristia)

Thursday, 18 August 2016

Karacak Valley, Puncak Bintang Rasa Garut


Garut memang selalu merindukan. Bukan karena coklat anti galaunya, tapi suasananya merdu akan pemandangan. Gunung-gunungnya, bukitnya, sawahnya, jalanannya, pokoknya semuanya deh.

* Sore itu, langit sedikit mendung. Setelah menyelesaikan urusan di Disparbud Kabupaten Garut, Aku dan temanku Yuli bergegas kembali menuju Bandung. Meski banyak rindunya, tapi sedikit cemas karena tiba-tiba langit mendung menghampiri.  
 “yakin gak akan main dulu?” tanya uli sambil mengenakan sarung tangan dan maskernya.
“langsung balik aja deh yuk,” jawabku sambil mengenakan helm biruku.
Jarak antara Bandung dan Garut memang tidak terlalu jauh. Dibutuhkan waktu sekitar satu jam setengah, bahkan bisa lebih. Tergantung siapa yang mengendarai dan bagaimana ruas kemacetannya.  Handphone ku berdering. Tepat saat kami sedang beristirahat di salah satu pom bensin.
“Dimana?”
“Dijalan balik Bandung,”
“Lah, buru kadieu ulah waka balik heula,”
(cepat sini jangan dulu pulang)
“Kemana?”
“Bukit Karacak Valley, searching aja,”
Emang yang namanya anak traveling, sangat mudah untuk tergiur dengan jalan-jalan. Meski keadaan sedang melakukan penelitian, yang penting ada sedikit jalan-jalan. Setelah kita bermusyawarah selama 30 detik, yang tadinya gak akan main dan langsung ke Bandung, selagi masih di sekitaran Tarogong, kita akhirnya memutar arah ke Karacak Valley.
Belum pernah denger sih, di google maps juga belum ada. Yang ada Karacak. Tetep sih, maps akurat itu dengan nanya ke beberapa warga sekitar.
“Punten Pak, bade tumaros. Upami ka Bukit Karacak Valley ka palih mana?”
“Neng, teu salah? Bade ka gunung? Tebih eta mah,”
Aku dan Yuli saling bertatap muka. Sedikit ragu akan melanjutkan perjalanan atau tidak. Tapi, kawan ku yang tinggal di Garut, Fajar Marantika namanya. Yang tadi nelpon, bilang kalau tempat itu bagus, dan tidak terlalu jauh.
Menurut info dari warga sekitar, untuk mencapai Karacak Valley, jalur yang digunakan melalui Jalan Bratayudha dan masuk ke Jalan Margawati.  Jarak tempuhnya dari pusat kota menuju lokasi sekitar 20 menit. Jalananya emang sedikit terjal, persis seperti menuju Puncak Bintang di Bandung.  Aku dan Yuli khawatir takut kesorean banget karena kita gak punya gambaran lokasinya seperti apa, sedikit kesal. 


Tapi akhirnya sampai menuju lokasi. Lega sudah, kami berada di atas bukit dengan pemandangan indah khas Garut. Terpampang tulisan Karacak Valley. Sebuah objek wisata di atas Bukit dengan pemandangan pepohonan, Camping Ground, perkebunan dan juga wisata curug.
Ketemu deh sama Fajar. Setiap ke Garut emang suka main sama Fajar. Kebetulan doi ini fotografer dan disana dia lagi foto Prewed. Entah deh doi kapan Prewednya.
Oia, tiket masuk menuju Karacak Valley ini, Rp10.000, kalau mau camping  Rp15.000, dan di sini, tempatnya pewe banget buat hammockan. Tapi sayang, karena dari awal gak niat main, kita gak bawa hammock.'

Karacak Valley ini, berada di kawasan Perhutani. Saat ini dikelola oleh Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Jayamandiri. Luas lahan Karacak 92,8 hektare. Namun yang baru diuji coba untuk pengelolaan wisata hanya 10 hektare. Meski baru dibuka selama enam bulan, tapi udah banyak banget pengunjung yang datang ke sini. Katanya, tempat ini lagi nge-hits di Garut dan instagram-able banget. Cie.. jadi anak kekinian Garut deh hahahaa..
Untuk fasilitas disini memang belum lengkap banget. Tapi, toilet bersih dan mushola sudah tersedia dengan baik. Pas wudhu disini, air nya dingin bangeeeeeet. Seger dan bikin semangat deh.

Karena aku dan Yuli suka banget sama curug, kita menapaki jalan menuju Curug. Kata Fajar sih gak terlalu jauh, deket kok. Tapi, kita diharkosin. Hmmmm.. ngomongnya sih deket, tapi gak nyampe-nyampe. Semangat kita pun perlahan turun. Kaki udah leklok karena udah jarang olah raga. Berat badan turun dua ons pokoknya kalau udah belokan pas tanjakan itu, curugnya belum keliatan, kami memutuskan untuk pulang. Udah hopeless banget pokoknya. Persediaan air kurang dan belum lagi kita harus punya tenaga untuk pulang ke Bandung.

Tapi alam tak pernah menghianati. Memang, menuju tempat indah itu butuh perjuangan. Dan setelah menapaki tanjakan terakhir, kami melihat ada air terjun. Dan waw banget.. (pasti ngira amazing ya)
Kalian tau… debit airnya kecil kalau kata orang sunda mah, caina saat. Tapi kami tak pernah menyesalinya. Rasa cape terobati setelah menenggelamkan kaki di area curug. Tak hanya itu, kami pun meminum air langsung dari aliran curug. Pocari Sweet, kalah.




Kebetulan banget, disana kita juga ketemu dengan dua orang jurnalis dari Garut yang sedang melakukan peliputan.


Mereka juga meminta foto dan mewawancarai kita. Senangnya ketemu rekan sesama jurnalis. 

Karena hari mulai menuju petang, kami langsung pulang ke Bandung. Selama di perjalanan turun bukit menuju pusat kota, kami diantar oleh pesona sunset di balik pegunungan. langit mulai redup, lampu-lampu rerumahan berbinar semakin menghiasi perjalanan.

untuk foto-foto lain dan video cek 
di instagram : @reginaristia

Friday, 12 February 2016

Pengen "niis" dimana? Gunung Batu Lembang Cocok Nih!




Lembang merupakan kawasan yang sering menjadi tujuan bagi para wisatawan. Di Lembang ini banyak sekali objek wisata, seperti Gunung Tangkuban Perahu, Bosscha, Taman Begonia, Floating Market dan masih banyak lagi. Nah, dari sekian banyak wisata yang ada di Lembang, ada satu yang juga menjadi favorit untuk dikunjungi, yaitu Gunung Batu Lembang.

Di Gunung Batu Lembang ini kita bisa menikmati Kota Bandung dari ketinggian 1.228 mdpl. Gunung Batu ini terletak di Desa Pagerwangi, Kecamatan Lembang. Letaknya cukup dekat dengan pusat kota Lembang dengan waktu tempuh hanya 5-10 menit sampai lalu menempuh pendakian kurang lebih selama setengah jam.
Dari puncak Gunung Batu Lembang kita bisa melihat landscape pemandangan hamparan Bandung di bagian selatan serta Lembang dan juga Tangkuban Perahu di bagian utara. Kita juga dapat menikmati pemandangan sunrise yang mengagumkan di waktu subuh.
Cahaya matahari pagi berpadu indah dengan pemandangan gunung bukit tunggul di bagian timur. Sementara di bagian barat kita dapat menikmati keindahan Gunung Burangrang. Bila memandang ke timur tampak gawir patahan Lembang yang semakin tinggi. Menakjubkan bukan?





Tak hanya untuk sekedar menikmati pemandangannya, di sini kamu juga bisa melakukan panjat tebing atau ber-camping ria. Di malam hari, kamu bisa memburu foto milky way atau menimati gelemerlap lampu Kota Bandung yang bertaburan indah.
Oia, satu hal yang perlu sama-sama kita ingetin. STOP VANDALISME!
Ulah curat coret, alay..






Teks & Foto @reginaristiana
+Regina Aristiana 







Friday, 5 February 2016

D'pakar! Kafe Nuansa Alam di Bandung



Dago Pakar selalu jadi sudut favorit untuk menikmati keindahan Kota Bandung. Tak jarang, dikawasan ini terdapat beragam resto dan tempat hangout dengan menyajikan pemandangan yang menakjubkan.

Pernah dengar D’Pakar Kafe? Kafe yang lagi kekinian ini terletak di kawasan Dago berada di Desa Ciburial, tak jauh dari Taman Hutan Raya (Tahura) Dago dengan rute searah ke Tebing Keraton. (Udah lama sih kekiniannya cuman baru sempet dipost aja)

Kafe ini berdiri dipinggir tebing sehingga pohon pinus dan sejumlah pemandangan indah berupa hutan dan barisan pegunungan Tangkuban Perahu sampai Manglayang akan menemani nikmatnya santapan di kafe ini.

Harris  selaku owner awalnya tak sengaja menjadikan halaman rumahnya sebagai kafe. Sejumlah remaja tiba-tiba datang untuk meminta ijin berfoto-foto. Ia tidak menyangka kalau semenjak dari situ mulai banyak yang datang dan berfoto. “Tau dari instagram katanya,” ungkap Aa manis ini sambil mengingat kafe yang dibentuknya sejak 2011.

Karena mulai banyak yang datang, Harris memberanikan diri untuk menjadikan halaman rumahnya sebagai kafe. Terdiri dari dua konsep, bagian indoor Kafe ini berupa rumah tradisional yang berbentuk joglo dari kayu jati dilengkapi dengan meja dan kursi unik yang terbuat dari kayu. Sedangkan konsep outdoor menawarkan pemandangan perbuktian dan hutan pinus. Jarak tiap kursi sangat lenggang. Ada yang diatas rumput, dibawah pohon dan dipojokan.
Untuk makanan yang disajikan di kafe ini memang belum terlalu banyak. 

Karna kafe ini sebenernya menjual tempat yang indah. Makanannya terdiri dari olahan roti, mie dan nasi goreng. Untuk Minumannya berbagai variasi susu murni dan kopi. Untuk kamu yang ingin datang ke D’Pakar Kafe, karena kafe ini tidak buka sampai malem, Regi saranin sih dateng siang atau sore.





Teks & Foto: @reginaristiana




Wednesday, 3 February 2016

Curug Citambur, ini loh Jurasic Park-nya Cianjur!


Curug Citambur pas lagi mendung-mendungnya


30 Januari 2016 (23.35 pm)
“Pokoknya jam enam teng kita berangkat ya,” ujar Selvi dimultichat telegram. 
***
31 Januari 2016 (06.20 am)
Solat subuh sih iya, tapi gatau kenapa kasur narik-narik buat ngajak bobo cantik. Rencana untuk bisa berangkat sepagi-paginya nyatanya hanya sebuah wacana.


“Udah pada bangun belum? Aku baru beres mandi nih,” Selvi langsung ngechat.
“Iya udah ko,” Aku balas.

Engga lama kemudian, hp berdering. Holis nelpon kalo doi udah otw dan nyuruh aku buat cepet-cepet mandi. Akupun langsung lari ke kamar mandi dan engga tau kenapa tiba-tiba kamar mandi gelap banget dan pas ngebuka mata ternyata aku masih berada di atas kasur. Sialan! Mimpi…
Aku langsung ngechat holis tapi masih belum dibales-bales.

(08.45 am)
“Gimana dong, holis ga ada kabar,” aku tak henti beberapa kali nge-ping di kontaknya Holis.
“Iya, aku juga udah ngajakin yang lain tapi belum pada bales,” kata Selvi yang baru sampe di rumahku.
“Iya sih, pasti pada gak bisa karena kita dadakan ya?”

Gak lama kemudian, Holis langsung nelpon
“Ahhhhh… Maafin baru bangun. Kalian udah pada berangkat ya?” kata Holis dengan nada sedikit panik
“Sia mah ih ditungguan teh! Cepetan, kita nungguin dari tadi!” ujarku sedikit kesel.

Aku dan Selvi menuju ke guesthouse tempat Ka Andri menginap. Sekitar lima menit dari rumah. Ka Andri ini kerja di Jakarta. Doi pengen jalan-jalan di Bandung terutama ke tempat yang instagrammable banget. Tapi karena kemaren kita ke Lembang dan gak menyenangkan karena penuh dan macet, aku bujuk doi untuk ikut ngejarambah ke Curug Citambur.

“Masih mau ngantri foto di depan rumah hobits? Yuk ikut aja ke Jurasic Park nya Jawa Barat!” ungkapku pada Ka Andri. Gak lama kemudian, Holis pun datang dan kita berempat langsung berangkat. (10.47 am)

Curug Citambur berjarak kurang lebih 65 Km dari pusat Kota Cianjur dan 40 Km dari Ciwidey, Kabupaten Bandung. Letak Curug Citambur cukup berdekatan dengan Kabupaten Bandung dan masih berada dalam deretan perbukitan yang membatasi Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Cianjur. Sepanjang jalan, kita disuguhi oleh pemandangan kebun teh yang vscocam banget. Siang itu cuaca sedikit mendung dan ada efek kabut-kabutnya. Amazing banget deh pokonya...

Setelah melewati kawasan Ciwidey, kami beristirahat sejenak di sebuah mesjid untuk melaksanakan shalat dzuhur. Pas lagi wudhu, airnya seger banget sesegar hati ini yang gak sabar pengen ketemu sama kamu. iya kamu Curug Citambur. 

Nah, setelah melanjutkan perjalanan, sesampainya di Desa Cipelah, jalanan yang kita lewati malah terjal dan rusak. Kebayang kalo musim ujan gimana licinnya. Apalagi bawa beban kayak badan aku ini. Kasian kan motornya. 

Gak cuman rusak diperparah juga dengan tanjakan yang super nanjak. Meskipun kita sedikit kesusahan karena menghadapi jalanan yang rusak, kita gak pernah ngeluh (kecuali Ka Andri) karena Aku, Selvi dan Holis udah pernah diospek waktu jalan-jalan ke Curug Malela beberapa tahun lalu. 
"Ada pesawat dari sini yang langsung ke jakarta gak?" Kata Ka Andri.
Karena ngeliat Ka Andri kewalahan dan daritadi manggil-manggil tim Sar, kami pun memutuskan untuk istirahat di sebuah warung kecil.

Sambil nunggu indomie mateng, aku ngajakin ibu warungnya ngobrol-ngobrol.

“Bu, kok banyak pungutan liar ya disetiap jalan,”
“iya neng itu mah udah biasa,”
“tapi bener itu teh uangnya buat perbaikan jalan?”
“gatau neng, tapi yang ibu tau sampe sekarang jalannya masih gini-gini aja,”
"Oh gitu ya. oia bu, kalo ke Curug Citambur berapa lama lagi ya?"
"Oh sebentar lagi,"
"Sebentar lagi itu seberapa lama lagi bu?" tanya Holis yang udah faham kalo ukuran sebentar lagi antara warga sekitar dan kita itu jauh berbeda.
"Setengah jam lagi lah, Jang," Kamipun bersemangat untuk melanjutkan perjalanan. 

Karena merasa tidak yakin, Selvi memberhentikan motornya di depan sejumlah remaja yang tengah asik bercanda tawa.
"A, punten mau tanya,"
"Tanya apa teh, sini nanya ke saya aja," mereka pun silih berebutan
"Kalo Curug Citambur masih jauh ga?"
"Deket sih teh, sedeket hati aa sama teteh,"
"Ih serius atuh a,"
"Ya teh, Curug Citambur mah udah kelewat. Itu gening sebelah kanan ada gapuranya ada tulisannya. Kalo dari arah sana mah emang ga keliatan soalnya penujunjuknya menghadap ke sini," Ujar salah seorang dari mereka. Setelah mengucapkan terima kasih, kami balik arah dan lebih berhati-hati lagi untuk menemukan gapura yang diberitahu oleh si aa tadi.

(15.40 pm)


Finally, i found it!
Akhirnya sampai lah di pintu masuk Curug Citambur
tepat di depan kantor Desa Karang Jaya. 

Karena kegirangan gak sabaran pengen liat Curug Citambur aku pun langsung berlari-lari melewati sawah dan beberapa tanjakan kecil. Setelah kami berfoto ria engga kurang dari 10 menit, tiba-tiba hujan gede. Kamipun langsung berlarian mencari tempat berteduh.

"Aku tau kenapa hujan, tandanya nyuruh kita buat shalat ashar dulu," ujarku mengajak yang lainnya ke sebuah mushala. Di dalam mushala ada ibu-ibu yang katanya  warga setempat.

"Neng dari mana?"
"Dari Bandung, Bu," kata Selvi.
"Hati-hati neng pulangnya takut kemaleman,"
"Iya Bu, tapi di sini amankan?"
"Ih Neng puguh suka banyak begal. Komo tah dipengkolan eta poek jeung keu-eung,"
"Neng ada kenalan gak orang sini kalo bisa mah mending nginep aja. Besok pagi pulangnya," tambah ibu yang satu lagi.
Kami langsung saling bertatap meski sedikit ketakutan tapi kami serempak bilang kalo Senin harus langsung kerja. Apalagi Ka Andri yang harus pulang ke Jakarta karena senin paginya meeting di kantor. "Lahaula aja deh, Insya Allah, selamat," ungkap Holis.

Dan bener aja, sehabis kita Shalat Ashar hujan berenti dan awan seketika cerah.

"Yuk ah, jangan lama-lama biar pulangnya gak kemaleman," kata Selvi.


This is it! Ini loh yang aku bilang Jurasic Park 
made in Desa Karang Jaya, Kecamatan Pasir Kuda, Cianjur Selatan
keren kan? tapi salah angle moto deh kayaknya. Jadi asa gak keliatan gagahnya :(
maklum hp baru, jadi masih takut kena basah gitu hahaa

Air yang jatuh dari ketinggiah 100 meter itu berbunyi bur, bur, bur, 
sehinga penduduk menyebut curug ini Citambur


Curug Citambur ini memiliki ketinggian lebih dari 100 meter

Karena gak afdol kalo ke curug tanpa berenang dan kenalan sama airnya.
Suara gemercik dan beningnya air membuat kami senang dan berasa penawar letih banget.  Apalagi curug ini masih sepi jadi kayak milik kita hehe...

(17.35 pm)


Tuesday, 2 February 2016

Pesona Curug Bugbrug: Butuh Piknik? ke sini aja Ce Es!


Ini curug bugbrug dimusim kemarau, debit airnya kecil



“Mungkin, Bandung diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum” –. Itulah sebuah kalimat yang dipopulerkan oleh Pidi Baiq, yang menggambarkan sisi keindahan alam Bandung dan sekitarnya. Tak hanya soal kulinernya yang selalu nge-hits dan jadi incaran, Bandung juga memiliki sejuta pesona objek wisata alam yang tentunya punya daya tarik tersendiri.




Nah, bicara soal objek wisata, Saya mau ngasih tau tempat rekreasi yang masih sangat asri dan belum banyak yang tau loh! Curug Bubrug namanya. 

Hidden paradise yang terletak di Kabupaten Bandung Barat ini memiliki kedalaman lebih dari delapan meter dan ketinggian 1.050 meter di atas permukaan laut. Suasana sejuk dan gemuruh suara air terjun di sini cocok untuk untuk mengobati hiruk pikuk aktivitas atau sekedar melepas penat dan ber-selfie ria. Kalo menurut aku sih, bagi yang suka meditasi atau yoga tempat ini cocok banget. 

Akses menuju lokasi ini cukup mudah. Dari arah Bandung, perjalanan dimulai dengan menuju Terminal Ledeng, lalu mengambil jalan ke kiri menuju Parongpong. Jika dari Cimahi, dapat menggunakan angkutan kota jurusan Parongpong. Kemudian, perjalanan dilanjutkan memasuki gapura CIC Outbond, sebelum memasuki CIC, disebelah kiri Kamu akan menemukan beberapa kios warung. Lalu memasuki jalan setapak yang tak jauh dari kios tersebut.

Usai menapaki jalan kecil, kamu akan melintasi sungai dan beberapa tebing. Sedikit lelah akan terobati setelah mendengar gemercik air yang menandakan akan segera sampai. Ketika saya datang, Pak Mangsur (36 Tahun) dengan ramahnya menyapa dan menghampiri. Memang belum secara resmi ada biaya tiket masuk. Namun, untuk kebersihan, Penjaga Curug Bubrug yang sudah sejak lahir tinggal dan bertani disekitar kawasan curug ini memunguti Rp.5000/orangnya.

instagram @reginaristiana
“Bugbrug itu dari bahasa Sunda yang artinya bertumpuk atau bertumpang-tindih. Curug ini dinamai Curug Bugbrug karena air yang jatuh dari curug ini terlihat seperti bertumpuk-tumpuk atau ngabugbrug,” ungkap Mangsur sambil mengajak duduk dan menikmati secangkir teh panas.

Waktu yang tepat untuk mengunjungi Curug Bugbrug adalah ketika musim hujan, karena volume jatuhan airnya akan mencapai volume terbesar. Pastikan Kamu membawa bekal air dan keperluan lainnya. Gunakan sepatu yang cocok untuk hiking karena jalanan yang dilewati cukup licin.


Sejumlah fasilitas seperti toilet, warung yang tersedia dikawasan ini memang belum memadai. Beberapa saung kecil terpasang namun tak terpakai dan nampak tak terurus. Mungkin, karena jarang ada wisatawan yang datang ke tempat ini dan masih dalam tahap pengembangan. 

Tunggu apalagi? Persiapkan dirimu untuk menjelajahi Curug Bubrug. Tetap jaga kebersihan dan taati peraturannya ya!







Friday, 25 December 2015

Travelling? Akibat Kurang Persiapan dan Serba Dadakan

~ Belum lulus jadi traveller kalo lo masih suka ngeluh ngadepin apa yang terjadi selama melakukan perjalanan.



Kali ini, gue mau ngomongin soal persiapan ketika lo mau melakukan perjalanan, travelling. Packing itu menunjukan kepribadian lo sebenernya. Lo harus bisa bijak memilih mana barang yang musti diprioritaskan. Perlu loh mencatat apa yang musti dibawa. Cari referensi atau riset dulu biar tau apa aja yang musti disiapin.
Kalo lo orangnya perfectionis, semua barang detail banget lo bawa bahkan hal kecil pun. Perjalanan cuman dua hari, tapi bawaan udah kayak korban pengungsian. Segala ditenteng, tas gede lah tote bag lah belum lagi keresek keresek lainnya. Ada loh orang yang kayak gini. Kalo ditanya, "ribet banget lo mau pindahan mbak?"
Pasti dia ngejawab "namanya juga jaga-jaga,"
Kalo gue sih mending bawa diri aja, kan ada kamu yang jagain aku. #kode

Kalo gue, belum pernah melakukan perjalanan dengan persiapan matang. Selalu serba dadakan. Lagi diem-diem gini nih, gabut. tiba tiba bilang "Yuk cus ke sukabumi sekarang,"
dengan prepare sejam kurang gue pun udh bisa langsung go ke luar kota.
Bahkan di path temen-temen pada komen ada yang bilang"Regi tuh manusia apa sih, sebentaran di south jakarta, di papua, makasar trus udah di bandung lagi,"
Dengan keberadaan pintu kemana saja, apapun bisa terjadi. Enya weh da Doraemon -_-

Kurang persiapan ini juga bukan hanya karena mood yg tiba tiba dapet ilham pengen ke suatu tempat. Seringnya sih, sebelum perjalanan selalu ada kerjaan.
Waktu mau ke Batam, dua hari full gue motret di Bogor.
Waktu mau ke Jogja, dari pagi liputan dulu sana sini sampe injure time buat packing.
Ah pokoknya banyak deh kesibukan gue sebelum ngelakuin perjalanan. No Boarding time!!
Alhasil barang yang semestinya gue bawa malah ga ke bawa. Misalnya, hal penting sih ini. Kamera. Karena gue pengen jalan-jalan sekalian lanskepan, gue sengaja sewa lensa wide ke pondok lensa. Mau minjem ke temen, pada dipake karena emang lagi waktu liburan.
Disela-sela liputan gue sempetin ke sana meski macet dan kepanasan pake motor. Waktu itu taman sari macet karena lagi ada wisuda disabuga. Nya panas, tunuh, nya lapar deui. Ampun dekah meni kieu-kieu teuing hirup teh..

dan taunya lensanya fullboked. adanya lensa wide buat nikon. Yaudadeh terpaksa gue sewa, dan mikir kameranya bisa pake yang di kantor karena kebetulan yang dikantor itu nikon.
Nah dari situ, gue langsung menuju studio buat pemotretan. Abis pemotreran menuju kantor, udah banyak kerjaan sana-sini. Letih, Lelah, Lapar (Astagfirullah, banyak ngeluh ni anak)

Karena emang dari kemaren dan saat itu gue sibuk ga sempet yang namanya packing, Segala barang gue masuk masukin ke bagasi mobil. Pas mau ngeluarin mobil dari garasi, di belokan jalan ada mobil parkir watados ngalangin jalan. Rumah gue emang gang banget buat mobil cuman cukup satu mobil sama satu motor. Makanya mobil baret-baret kalo gue yang make, ditambah banyak roda tukang dagang disepanjang jalan komplek rumah. (Komplek gang maksudnya)
Trus gue tanya sana sini buat nanya itu mobil siapa. Simobil sedan berplat B. Nunggu sejam lebih baru deh dateng orangnya, langsung gue marahin.
"Mas, ga mikir apa parkir seenaknya!"
Trus dia cuman senyum-senyum sambil minta maaf. Tadinya kalo masih lama mau dikempesin ban nya. Berani? iya berani ko KZL. Selvi yang sedari tadi juga sama-sama kesel langsung bilang "sabar istigfar udah jalannya harus kayak gini,"
Di situ gue langsung diem, tarik nafas meski muka masih bete ga karuan.

Di rest area pas cek bagasi mobil, baru deh teriak kalo kamera ketinggalan di kantor.
Mampus deh, kamera canon bawa lensanya nikon. Ngejodohin kamera aja gue masih teledor apalagi ngejodohin diri
Sepanjang jalan gue nyoba buat ngendaliin diri. Dan berfikir lebih jernih lagi. Lebih kalem lagi dan lebih ngambil hikmahnya lagi. Sesampainya di lokasi, gue turun turunin barang di mobil dan gue nemuin kalo si tas kamera nikon itu nyempil dideket kursi mobil ketumpuk sama barang lain.
Saking berantakannya gue packing, gue lupa kalo gue udh masukin kamera ke mobil.
Ah entahlah seketika hilang ingatan dengan kebodohan yang teramat sangat ga penting.

Dari situ gue mulai sadar kalo segala sesuatu serba dadakan ujungnya pasti berantakan. Kecuali, kalo lo lagi lucky. Tapi kalo lagi apes-apesnya ya lo bakalan kelimpungan deh..
Beberapa bulan lalu nih, waktu gue travelling ke malang naik kereta bareng temen, temen gue ngedadak datang bulan.
Jam menunjukan pukul 2 pagi. Doi panik sana sini karena ga bawa pembalut. Sementara perjalanan masih 5 jam lagi.
Setiap kereta berenti di stasiun kecil, kita langsung keluar nanya pembalut. Barang kali ada di P3K. Kita juga udh nanya nanya ke petugas kereta buat nanyain pembalut. Tapi tetep aja ga ada. Akhirnya, kita inisiatif buat nanya ke semua penumpang dari satu gerbong ke gerbong lainnya. Nyoba nanya sama penumpang yang belum terlelap. Penumpanf cewek sih. Yaialah masa "Permisi teman saya baru datang bulan, Mas bawa pembalut ga?"
ga mungkin juga kan nanya gitu.
Setelah nanya-nanya nih, seorang gadis cantik ngejawab kalo doi bawa pembalut. Akhirnya kita bisa bernafas lega dan kembali beristirahat lagi..
Semenjak dari situ, kita sering bawa pembalut kemana-mana.
Setelah banyak pengalaman sana sini, akhirnya gue sadar kalo ada beberapa barang sakral yang musti gue bawa kemana-mana. Diantaranya: Kamera, Alat Mandi, Daleman, Pembalut dan Obat-obatan. Semua barang ini selalu gue bawa kemana mana buat jaga jaga kalo tiba-tiba dadakan untuk melakukan perjalanan. Nah kalo kamu nih, barang apa yang penting dan wajib kamu bawa kalo mau travelling?

Monday, 21 December 2015

Asiknya Main di Curug Semar, Pantai Loji Sukabumi

#Hari Kedua…
Menikmati keindahan Pantai Pelabuhan Ratu di kala subuh.
Niatnya sih pengen gitu. Tapi, pagi ini aku tak hiraukan alunan lagu Bill Fold yang berbisik hardcore ke telingaku. Ini gara-gara Teh Resti yang ketagihan sama aplikasi karaoke di handphone-ku. Tadi malam, doi ngajakin nyanyi berduet bareng. Saking lupanya gak kerasa entah berapa album lagu yang kita nyanyiin bareng di kamar. Aku tengok Key sudah terlelap lebih dulu. Tapi tetap aja, kita bangun dengan waktu yang bersamaan.

Sebenernya gak apa-apa sih gak usah pagi banget menuju pantai. Toh di Palabuhan Ratu memang sulit mendapatkan sunrise. Aku pernah menantinya di Pantai Karang Hawu, tapi matahari hanya mengintip malu di balik bukit di ujung sana. Entah, mungkin tempat yang paling cuco buat liat sunrise ganteng adalah Pantai Ujung Genteng. Oke. next time I’ll be there ya..


Setelah mandi dan menyeruputi segelas milo hangat, Aku dan Key berbegas menuju Pantai Citepus. Lagi? Iya sih ke sana lagi tapi bukan tempat yang kemarin waktu minum es kelapa. Masih di kawasan Pantai CItepus tepatnya dekat mesjid Istiqomah, pagi ini kita nongkrong cantik di sini. Kurang pas rasanya kalo belum menyentuh ombak-ombak lucu di sini. Meski gak berenang, kita sengaja membasahi setengah kaki sekedar berkenalan dengan ombak di sana. Tak lama kemudian, A Efan datang menghampiri. Aku segera menarik tangannya dan kamipun berselfie ria.


“Kak Efan.. kita pengen main ke Pantai Loji,” ujar Key sambil merengek seperti anak SD yang minta dibeliin es krim. Akupun ikut merayu seperti seorang gadis yang minta dibeliin mas kawin. #eh   
“Tunggu Yah, nunggu Wa Erik dulu bawa motor,” jawab A Efan dengan selow nya.  Selang beberapa menit, A Erik datang dengan motor matiknya. Muka-mukanya sih kayak yang abis mandi. Tanpa menunggu lama, kami berempat langsung tancap gas menuju Desa Loji, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi.

Pantai Loji.
Ini kali kedua aku menuju ke sana. Jalannya memang cukup rusak. Bukan cukup sih kayaknya emang rusak banget. Terakhir kesana 2013 waktu masih langsing-langsingnya dan jalannya engga separah ini. Bebatuan, licin dan berlubang. Khawatirnya nih, ban kempes karena keberatan beban. Iya, aku nyadar body ko makanya bilang gitu..

Nah, selain sebagai tempat wisata, Pantai Loji juga merupakan tempat ibadahnya penganut Buddha. Di sini, terdapat sebuah vihara bernama Nam Hai Kwan Im Pu Sa atau bisa disebut dengan lebih singkat sebagai Vihara Loji. Pas pertama dateng, ada dua patung naga berkepala tujuh yang akan menyambut di pintu masuk. Untuk menuju puncak vihara kita harus menapaki sekitar 300 anak tangga. Di lingkungan Vihara ini terdapat banyak fasilitas peribadatan seperti Dewi Bumi, Dewa Bumi, Julehut, Dewi Kwan Im, Padepokan Eyang Semar, Padepokan Prabu Siliwangi, Budha Four Face, dan yg menarik dari vihara ini adanya Padepokan khusus untuk Ratu Pantai Selatan (Nyi Roro Kidul). Mungkin karna lokasi nya yang dekat dengan pantai selatan kayaknya.. Makanya dibuat persembahan untuk Sang Ratu.
Setelah mampir dan tengok-tengok sebentar ke Pantai Loji, kita segera menuju ke Curug Semar. Curug ini ada di dekat Pantai Loji. Sebenernya sih namanya Curug Glodok eh gatau Glodog gitu ya nulisnya. Tapi karena bentuknya mirip dengan Semar jadi lebih popular disebut Curug Semar. Memang sangat tersembunyi karena untuk menuju ke sini kita harus parkir di sekitar halaman rumah warga. Baru deh kita masuk ke semak belukar, areal sawah dan hutan-hutan dengan foreground tebing-tebing yang kece banget deh pokoknya.

Selama perjalanan kurang lebih 20 menit berjalan, kami bercanda gurau dan sesekali diam karena kelelahan. Keringat pun mengucur deras. Namun tak sederas semangat kami yang tak sabar ingin segera menikmati derasnya air terjun tersebut. A Efan dan A Erik memandu kami sambil memperingati untuk berhati-hati. Jalanannya memang menanjak dan cukup licin. Karena Aku salah pake sandal, alhasil akupun terpeleset jatuh ke sebuah pudunan. Sambil tangan kanan menahan ke sebuah ranting, dalam waktu bersamaan aku menahan agar kamera di tangan kiri tidak terbentur sedikitpun. A Efan langsung mengulurkan tangannya mencoba membantu.
“Jangan selametin aku. Selametin aja kameranya,” ungkapku sedikit berteriak. Key dan A Erik pun tertawa. Emang sih buat aku lebih penting menyelamatkan kamera selagi mengalami luka yang tak seberapa. Bahkan luka hati sedikitpun (ciee.. no hard feeling aja deh). Aku lebih rela kehujanan atau kepanasan asal kamera bisa terselamatkan. Kurang berkorban apa lagi coba aku? Iya kamu. Demi kamera.. bagiku, kamu.. penawar letihku. (pantes jomblo)
Meski kaki sedikit dadas dan memar, aku segera berdiri dan Kami pun melanjutkan perjalanan yang katanya bentar lagi. Tanpa mengeluh… Ayoooooo letsgoh jalan-jalan men!

Sesampainya di Curug Semar, I find that very surprising… Kita langsung mendekat ke air terjun dan berfoto ria. Curug yang memiliki ketinggian sekitar 10 meter ini memang punya sejarah tersendiri. Bahkan, menurut Muhammad Arie, kuncen di sini. Konon, curug ini curug tertua dan sakral karena merupakan pintu masuknya kerajaan jin. Tak heran, kadang ada yang datang ke sini untuk melakukan ritual di bulan-bulan tertentu.
Dengan permisi dan tidak membuang sampah sembarangan, kami pun menikmati suasana kesejukan gemercik air terjunnya. Pengennya sih nyebur juga di situ. Tapi, Key menyarankan untuk tidak basah-basahan karena takut masuk angin.
Belum lama kita bermesraan dengan Curug Semar, sejumlah remaja datang menghampiri.
“Assalamualaikum Pak,” ungkap mereka sambil mengulurkan tangan dan bersalaman dengan A Efan.
Atuh ai diluar sakola mah ulah nyebat Bapak,” kata A Efan dengan logat sundanya.
“ Oh, ternyata itu murid-murid nya A Efan,” gumamku dalam hati. Mereka yang usianya gak jauh beda denganku langsung berkenalan denganku. (Gak jauh beda? Iya sih dibanding sama usia Pak Efan jelas lebih jauh bedanya hahaa…)
“Oh, jadi kalian ini baru lulus SMA?” tanyaku sambil mengajak duduk di tepi kolam curug.
“Iya Bu,” jawabnya. Mampus deh, gue jadi kebawa-bawa disapa ibu.
“Ih panggil teteh aja atuh, da kita teh seumuran,” ungkapku sambil tersenyum lebar. Merekapun sedikit tertawa. Iya tau kok tertawa karena merasa tidak percaya.
“Teh ko celananya kotor kayak yang habis jatoh?” Tanya salah seorang gadis dari mereka.
“Iya, barusan kepeleset dikit,” jawabku. (apanan heu’euh)


Ternyata mereka ini sengaja membawa makanan dari rumah untuk makan bersama. Istilahnya, Botram. Meskipun makan dengan nasi, tumis kangkung, asin dan kerupuk, makan siang kami terasa lezat dengan kenikmatan suasana air terjun dan keakraban yang kami ciptakan dengan singkat.
Happiness is simple…
Nikmat itu bukan dari seberapa mahal tempat atau makanan yang kita makan, tapi seberapa bersyukurnya kita bisa bahagia dengan kesederhanaan dan saling berbagi kebahagiaan. Where did you get it? Di tengah kota, belum tentu dengan hangout dan bergosip kita akan merasakan tertawa dan bahagia yang sama.



Friday, 11 December 2015

Tersenyum di Bukit Senyum Palabuhan Ratu

#Hari Pertama

“Lihat, itu Ufo!” 
Aku terkejut melihat hamparan benda bertaburan di atas langit. I have never seen like that before! Sejauh mata memandang Aku langsung tersadar kalo itu adalah pagang. Alat penangkap ikan yang biasa digunakan oleh nelayan di kawasan Pantai Palabuhan Ratu.
Key langsung menghentikan motornya.  Ia berdiri di tengah jalan yang sepi sambil merentangkan tangannya.  Warga Cikidang sini bilang, tempat ini adalah Bukit Senyum. Ketika siapapun berada di atas bukit ini, pasti akan tersenyum. Begitupun mereka. Sejumlah kawanan bermotor gede berplat B. Mereka berfoto ria sambil bercanda gurau. Bahkan, mengajak kami ikut berfoto.
“Kang, kita duluan ya,” Setelah sejenak melepas penat, kami melajutkan perjalanan.
“Hati-hati ya,” Serentak mereka menjawab.
“Jangan lupa main- main ke Bandung,” Seruku.
“Oh.. kalian dari Bandung,” Serentak lagi.
“Kenapa? Liat platnya F dikira orang sini ya?” Tanya Key sambil menggunakan helmnya.
“Oh, motor pinjaman ya,” Saking kompaknya, lagi-lagi mereka menjawab serentak.  Kamipun tertawa serentak.
Pantai Citepus dari mata ponsel, kebetulan lagi panas mencrang dan sepi-sepinya

Pasirnya coklat, ombaknya cocok buat surfing

Setelah melaju kurang lebih 30 menit dengan sepeda motor, senang sekali akhirnya bisa bertegur sapa dengan hembusan angin dan desiran ombak Pantai Citepus. Pantai yang terletak di kawasan Palabuhan Ratu Sukabumi ini berpasir coklat dan memiliki ombak yang cocok untuk surfing.
Entah keberapa kalinya aku ke tempat ini sudah sedari kecil bahkan masih dalam kandungan, memorable banget pokoknya. Dan aku tak pernah bosan, apalagi duduk santai menghadap pantai sambil menyeruputi sebatok es kelapa.
Tiba-tiba ponselku berdering, membuyarkan lamunanku.
“Dimana?” Tanya seseorang di sana.
“Ini di Citepus. Sebelah Istana Presiden,”
“Aku udah di Citepus juga ini,”
“Oh, oke. Aku udah liat. Arah jarum jam tiga ya. Sini,” Aku melambaikan tangan sambil mematikan ponselku. Seorang pria yang sedang menelpon membalas lambaian tanganku.
“Siapa?” Tanya key yang sedari tadi asik melihat foto-foto dikamera.
“Temenku. A Efan,”
“Kenal dimana? ”
“Dari Instagram hahaa.. Galeri fotonya kece. Kayaknya doi hatam banget sama Kabupaten Sukabumi,”
“Oke. Aku ngerti, Kamu mau minta dia jadi guide kita kan,”Aku hanya membalas dengan senyuman flirty.
“Iya… eh itu orangnya,”
A Efan datang menghampiri bersama temannya bernama Erik. Baru ketemu sekali kita sudah akrab bahkan menyapanya dengan sebutan Uwa Erik. Pria tinggi kurus dengan tubuh berlumur tato ini seorang life guard di sekitar kawasan Pantai Palabuhan Ratu. Wow, keren kan! Kamipun saling bercerita.
Salah satunya membahas Ciletuh Geopark. Baru-baru ini, tempat wisata ini emang lagi kekinian banget. Sejumlah media televisi dengan program trip dan adventure ditambah banyaknya hastag dimedia sosial, membuat destinasi global ini ngehits dan jadi incaran para traveller.
Tempat ini dulunya sebenarnya adalah laut. Namun kini telah terangkat dari bawah laut, dan kemudian terkenal sebagai Geopark Ciletuh. Bentang alam di Teluk Ciletuh ini memang menarik. Lansekap yang membentang berbentuk menyerupai amfiteater raksasa yang mirip seperti tapal kuda yang menghadap langsung ke arah Samudera Hindia. Belum lagi sejumlah air terjunnya yang mempesona.
Kebayangkan gimana epic nya tempat ini. Aku pun tak sabar ingin segera berkunjung ke sana.  (Loh, kirain udah) Sebenarnya dari dulu Aku sudah mengincar tempat ini. Tapi karena aksesnya sulit dan butuh waktu cukup lama, terpaksa mengurungkan niat dan hanya melihat keindahannya dari setiap situs travel blogger yang berkunjung ke sana.
Meski menyimpan panorama indah, A Efan dan Uwa Erik yang sudah sekian kali mengunjungi Ciletuh, merasa sedikit kecewa dengan pengelolaannya. Mungkin karena masih dalam tahap pengembangan jadi masih banyak hal yang perlu diperbaiki. In any case, kita juga harus tetap giat mengkampanyekan peduli lingkungan. Jangan sampai tempat yang dulunya hidden paradise ini malah jadi kurang bersih dan ekosistemnya merasa terganggu dengan pengunjung yang hanya sekedar ala-ala atau berpamer di sosial media.
"Jadi, besok kita kemana nih?" Key dengan tak sabar ingin segera jalan-jalan.
Maklum, lebih dari sepekan ini kami disibukan dengan liputan sana sini. Merasa jenuh dengan hiruk pikuk deadline, Selain untuk meliput World Rafting Champion 2015, Kabupaten Sukabumi akhirnya jadi penawar letih kami :)


 @reginaristiana

Comments system

Disqus Shortname

Navigation-Menus (Do Not Edit Here!)

Instagram Photo Gallery