Monday, 21 December 2015

Asiknya Main di Curug Semar, Pantai Loji Sukabumi

#Hari Kedua…
Menikmati keindahan Pantai Pelabuhan Ratu di kala subuh.
Niatnya sih pengen gitu. Tapi, pagi ini aku tak hiraukan alunan lagu Bill Fold yang berbisik hardcore ke telingaku. Ini gara-gara Teh Resti yang ketagihan sama aplikasi karaoke di handphone-ku. Tadi malam, doi ngajakin nyanyi berduet bareng. Saking lupanya gak kerasa entah berapa album lagu yang kita nyanyiin bareng di kamar. Aku tengok Key sudah terlelap lebih dulu. Tapi tetap aja, kita bangun dengan waktu yang bersamaan.

Sebenernya gak apa-apa sih gak usah pagi banget menuju pantai. Toh di Palabuhan Ratu memang sulit mendapatkan sunrise. Aku pernah menantinya di Pantai Karang Hawu, tapi matahari hanya mengintip malu di balik bukit di ujung sana. Entah, mungkin tempat yang paling cuco buat liat sunrise ganteng adalah Pantai Ujung Genteng. Oke. next time I’ll be there ya..


Setelah mandi dan menyeruputi segelas milo hangat, Aku dan Key berbegas menuju Pantai Citepus. Lagi? Iya sih ke sana lagi tapi bukan tempat yang kemarin waktu minum es kelapa. Masih di kawasan Pantai CItepus tepatnya dekat mesjid Istiqomah, pagi ini kita nongkrong cantik di sini. Kurang pas rasanya kalo belum menyentuh ombak-ombak lucu di sini. Meski gak berenang, kita sengaja membasahi setengah kaki sekedar berkenalan dengan ombak di sana. Tak lama kemudian, A Efan datang menghampiri. Aku segera menarik tangannya dan kamipun berselfie ria.


“Kak Efan.. kita pengen main ke Pantai Loji,” ujar Key sambil merengek seperti anak SD yang minta dibeliin es krim. Akupun ikut merayu seperti seorang gadis yang minta dibeliin mas kawin. #eh   
“Tunggu Yah, nunggu Wa Erik dulu bawa motor,” jawab A Efan dengan selow nya.  Selang beberapa menit, A Erik datang dengan motor matiknya. Muka-mukanya sih kayak yang abis mandi. Tanpa menunggu lama, kami berempat langsung tancap gas menuju Desa Loji, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi.

Pantai Loji.
Ini kali kedua aku menuju ke sana. Jalannya memang cukup rusak. Bukan cukup sih kayaknya emang rusak banget. Terakhir kesana 2013 waktu masih langsing-langsingnya dan jalannya engga separah ini. Bebatuan, licin dan berlubang. Khawatirnya nih, ban kempes karena keberatan beban. Iya, aku nyadar body ko makanya bilang gitu..

Nah, selain sebagai tempat wisata, Pantai Loji juga merupakan tempat ibadahnya penganut Buddha. Di sini, terdapat sebuah vihara bernama Nam Hai Kwan Im Pu Sa atau bisa disebut dengan lebih singkat sebagai Vihara Loji. Pas pertama dateng, ada dua patung naga berkepala tujuh yang akan menyambut di pintu masuk. Untuk menuju puncak vihara kita harus menapaki sekitar 300 anak tangga. Di lingkungan Vihara ini terdapat banyak fasilitas peribadatan seperti Dewi Bumi, Dewa Bumi, Julehut, Dewi Kwan Im, Padepokan Eyang Semar, Padepokan Prabu Siliwangi, Budha Four Face, dan yg menarik dari vihara ini adanya Padepokan khusus untuk Ratu Pantai Selatan (Nyi Roro Kidul). Mungkin karna lokasi nya yang dekat dengan pantai selatan kayaknya.. Makanya dibuat persembahan untuk Sang Ratu.
Setelah mampir dan tengok-tengok sebentar ke Pantai Loji, kita segera menuju ke Curug Semar. Curug ini ada di dekat Pantai Loji. Sebenernya sih namanya Curug Glodok eh gatau Glodog gitu ya nulisnya. Tapi karena bentuknya mirip dengan Semar jadi lebih popular disebut Curug Semar. Memang sangat tersembunyi karena untuk menuju ke sini kita harus parkir di sekitar halaman rumah warga. Baru deh kita masuk ke semak belukar, areal sawah dan hutan-hutan dengan foreground tebing-tebing yang kece banget deh pokoknya.

Selama perjalanan kurang lebih 20 menit berjalan, kami bercanda gurau dan sesekali diam karena kelelahan. Keringat pun mengucur deras. Namun tak sederas semangat kami yang tak sabar ingin segera menikmati derasnya air terjun tersebut. A Efan dan A Erik memandu kami sambil memperingati untuk berhati-hati. Jalanannya memang menanjak dan cukup licin. Karena Aku salah pake sandal, alhasil akupun terpeleset jatuh ke sebuah pudunan. Sambil tangan kanan menahan ke sebuah ranting, dalam waktu bersamaan aku menahan agar kamera di tangan kiri tidak terbentur sedikitpun. A Efan langsung mengulurkan tangannya mencoba membantu.
“Jangan selametin aku. Selametin aja kameranya,” ungkapku sedikit berteriak. Key dan A Erik pun tertawa. Emang sih buat aku lebih penting menyelamatkan kamera selagi mengalami luka yang tak seberapa. Bahkan luka hati sedikitpun (ciee.. no hard feeling aja deh). Aku lebih rela kehujanan atau kepanasan asal kamera bisa terselamatkan. Kurang berkorban apa lagi coba aku? Iya kamu. Demi kamera.. bagiku, kamu.. penawar letihku. (pantes jomblo)
Meski kaki sedikit dadas dan memar, aku segera berdiri dan Kami pun melanjutkan perjalanan yang katanya bentar lagi. Tanpa mengeluh… Ayoooooo letsgoh jalan-jalan men!

Sesampainya di Curug Semar, I find that very surprising… Kita langsung mendekat ke air terjun dan berfoto ria. Curug yang memiliki ketinggian sekitar 10 meter ini memang punya sejarah tersendiri. Bahkan, menurut Muhammad Arie, kuncen di sini. Konon, curug ini curug tertua dan sakral karena merupakan pintu masuknya kerajaan jin. Tak heran, kadang ada yang datang ke sini untuk melakukan ritual di bulan-bulan tertentu.
Dengan permisi dan tidak membuang sampah sembarangan, kami pun menikmati suasana kesejukan gemercik air terjunnya. Pengennya sih nyebur juga di situ. Tapi, Key menyarankan untuk tidak basah-basahan karena takut masuk angin.
Belum lama kita bermesraan dengan Curug Semar, sejumlah remaja datang menghampiri.
“Assalamualaikum Pak,” ungkap mereka sambil mengulurkan tangan dan bersalaman dengan A Efan.
Atuh ai diluar sakola mah ulah nyebat Bapak,” kata A Efan dengan logat sundanya.
“ Oh, ternyata itu murid-murid nya A Efan,” gumamku dalam hati. Mereka yang usianya gak jauh beda denganku langsung berkenalan denganku. (Gak jauh beda? Iya sih dibanding sama usia Pak Efan jelas lebih jauh bedanya hahaa…)
“Oh, jadi kalian ini baru lulus SMA?” tanyaku sambil mengajak duduk di tepi kolam curug.
“Iya Bu,” jawabnya. Mampus deh, gue jadi kebawa-bawa disapa ibu.
“Ih panggil teteh aja atuh, da kita teh seumuran,” ungkapku sambil tersenyum lebar. Merekapun sedikit tertawa. Iya tau kok tertawa karena merasa tidak percaya.
“Teh ko celananya kotor kayak yang habis jatoh?” Tanya salah seorang gadis dari mereka.
“Iya, barusan kepeleset dikit,” jawabku. (apanan heu’euh)


Ternyata mereka ini sengaja membawa makanan dari rumah untuk makan bersama. Istilahnya, Botram. Meskipun makan dengan nasi, tumis kangkung, asin dan kerupuk, makan siang kami terasa lezat dengan kenikmatan suasana air terjun dan keakraban yang kami ciptakan dengan singkat.
Happiness is simple…
Nikmat itu bukan dari seberapa mahal tempat atau makanan yang kita makan, tapi seberapa bersyukurnya kita bisa bahagia dengan kesederhanaan dan saling berbagi kebahagiaan. Where did you get it? Di tengah kota, belum tentu dengan hangout dan bergosip kita akan merasakan tertawa dan bahagia yang sama.



No comments:

Post a Comment

Comments system

Disqus Shortname

Navigation-Menus (Do Not Edit Here!)

Instagram Photo Gallery