Ketika kita melemparkan sebuah dadu dan hasilnya tidak sesuai
dengan apa yang diharapkan, pilihannya cuman dua. Tetap menerima angka itu atau
melempar kembali dadu tersebut tanpa tau pasti angka yang keluar. Bisa lebih
baik atau mungkin lebih buruk dari angka sebelumnya.
Wednesday, 8 January 2014
Friday, 20 December 2013
I LOVE YOU FOREVER
“I
LOVE YOU, FOREVER...,”
@reginaristia
@reginaristia
Cintai
lebih dalam Penciptanya, sebelum kamu mencintai ciptaan-Nya...
***
Kamu
tau yang namanya jatuh cinta itu seperti apa? Tidak ada yang menandingi anugrah
rasa yang telah Allah berikan itu. Betapa indahnya cinta sampai aku bersyukur
bisa diberi kebahagiaan, yaitu dia. Bagiku, dia adalah segalanya bagiku. Dia
yang menemaiku selama lima tahun. Saat masih memakai seragam putih abu hingga
berpijak di kampus biru.
Semakin hari rasa
cintaku semakin besar. Aku rela berkorban demi dia. Hingga aku memiliki rasa
takut teramat dalam untuk kehilangan dia. Apapun kulakukan demi si dia. Status
facebook-ku selalu berkata aku mencintai dia selamanya.
Tapi, siapa sangka. Aku
kira kebahagiaan itu bakalan berlangsung lama. Allah sang sutradara semesta
punya rencana dasyat loh. Allah mengambil ibu dariku. Orang yang selama ini
sering aku sia-siakan. Orang yang kadang aku bohongi demi mementingkan si dia.
Terkadang
kita baru tersadar akan sesuatu berharga
setelah sesuatu itu hilang. Atas kehendak dan kekuasaa-Nya, Allah
ternyata memarahiku. Allah mengambil ibu dariku agar aku tau kalau selama ini
aku sangat bodoh. Mencintai seseorang secara lebay.
Semenjak ibu pergi, aku
mulai belajar mengubah diri. Belajar untuk lebih dekat dengan Allah. Aku mulai
mengenal apa itu pacaran dan entah berapa besar dosaku perbuat saat setan
menghasut ketika aku sedang berduaan dengan si dia.
Dia mulai curiga dengan
sikapku. Dia merasa aku menjauhinya. Aku bilang yang sebenarnya kalau aku ingin
mengubah hidupku jadi lebih baik. Tapi, dia tidak mempercayaiku. Dia bilang aku
menyembunyikan sesuatu. Dia bilang aku sudah tidak mecintainya lagi dan dengan gampangnya
dia mengira kalau aku ngecengin cowok lain.
Ya Allah, cobaan
apalagi ini. Aku kira, ia bisa mengerti dan mendukung niat baikku. Aku hanya
ingin kita sama-sama memperbaiki diri melangkah bersama mencapai keridhoan
Allah. Aku berdebat dengannya hingga akhirnya dia tidak mau hubungan kita
seperti ini. Dia cuman mau kita seperti biasanya. Dia bilang sih dia tidak bisa
jauh dariku. Padahal, aku hanya mengurangi frekuensi bertemu dan mengajak ia
ikut mengubah hidupnya.
“Santai aja kali, kita
kan masih muda bro. Harus nikmatin dulu hidup kalau udah tua baru kita fokus
ibadah,” ujarnya enteng.
Aku hanya bisa mengelus
dada dan berusaha untuk menahan amarahku. Ya Allah, lelaki seperti ini yang
selama ini mendampingiku? Seperti ini lelaki yang aku kira bisa menjadi imamku?
Padahal aku cuman ingin bisa dekat dengan-Mu tanpa harus kehilangan dia. Tapi
kalau memang bersamanya bisa membuat aku jauh dari-Mu aku lebih baik kehilangan
dia. Aku yakin, jika kita meninggalkan
sesuatu karena Allah, Allah akan menggantikan dengan yang lebih baik.
Setelah aku berputus
dengan si dia, entah kenapa aku merasa lebih lega. Padahal, dulu aku takut
untuk kehilangan dia. Maha besar Allah yang mampu membolak balikkan hati
manusia.
Waktu aku masih jadian
sama dia, aku rela men-delete kontak teman-teman lelakiku demi meredam
kecemburuan si dia. Astagfirullah,
selama ini aku telah memutuskan tali silaturahmi dengan orang lain.
***
Waktupun cepat berlalu. Puji syukur aku punya
kesibukan positif di kampus. Ditambah memiliki teman-teman pergaulan remaja
masjid yang membuatku jadi istiqomah
di jalan Allah.
Suatu ketika aku
membuka facebook-ku, dari halaman
muncul dengan sendirinya sebuah peristiwa penting. Tidak sengaja melewat
diberanda tulisan 11-12-2013. Rupanya, disitu ditulis kalau si dia telah berpacaran
dengan perempuan yang dulu sempat menjadi teman baikku. Aku tersenyum meski
sedikit merasa aneh dengan ketulusan senyumku. Entah kenapa aku jadi ingin kepo
dengan twitter si mantan itu. Setelah aku lihat, rupanya mereka yang baru
jadian itu memasang foto ava yang sama. Si perempuan itu berpakaian serba mini
dan duduk dekat dengan si mantan.
Ya Allah, terimakasih
engkau telah menunjukan dia yang sebenarnya. Sekarang aku baru sadar akan
rencana-Mu yang indah itu. Ternyata,
pertanda itu selalu ada namun terkadang aku tidak menyadarinya..
Sekarang, semakin hari
prestasiku semakin meningkat. Semua berkat usaha dan keridoan Allah. Betapa
mudahnya move-on saat kita terus
mengucapkan Asma Allah.
Biarpun sekarang aku
jomblo, aku tidak merasa khawatir. Aku selalu berdoa agar aku bisa mendapatkan
jodoh yang shaleh. Seorang imam yang hatinya rupawan, yang bisa menuntunku
mencapai keridoan-Nya.
“Aku ngeliat Ardy udah
jadian loh sama Vidya. Kamu kenal kan Vidya? Bukannya dulu teman curhat kamu
yah,” ungkap Rini, teman semasa sekolah yang sekarang sekampus denganku.
“Iya, aku tau ko,”
jawabku sambil terseyum.
“Kok kamu kayaknya
seneng? Cie... kamu sendiri sekarang lagi deket sama siapa?” tanya Rini sambil
menggoda.
“Alhamdulillah,
sekarang lagi pdkt,” jawabku yang masih melengkungkan senyuman.
“Oia, sama siapa?”
tanya Rini makin kepo.
“Sama Allah, dong,”
jawabku sambil meninggalkan mushola.
Tidak
ada yang abadi selain cinta seorang umat kepada penciptanya...
Saturday, 7 December 2013
Kukuyaan Jadi Kuya Beneran
Awalnya cuman mau setor muka doang sih ama
anak-anak BEM. Mereka pada mau rafting di sungai Dago. Pas udah ngeliat
anak-anak pake pelampung, Selvi langsung girang banget pengen ikutan. Terpaksa
lah aku digiring dan dipaksa make pelampung juga. Alhasil, sesudah pake kostum
yang mirip sama kura-kura ninja butet, kita langsung menuju sungai dago naik
truk gede bareng pemandu.
Awalnya, aku kira arum jeram disini pake perahu
gitu dan engga bakalan basah-basahan banget. Eh taunya, masing-masing dikasih
satu ban dan mereka dihayutkan satu-satu. Lahhh ini sih bukan rafting tapi
selancar sungai atau nama kerennya riverboarding. Melihat deras aliran sungai
kebayang udah kayak devil bertanduk gitu, kaki tiba-tiba lemes, badan panas,
masuk angin, flu batuk pokoknya udah engga karuan.
Bukannya lebay sih, aku emang masih belajar
ngobatin trauma karna dulu pernah tenggelam di sungai. Tapi karna engga mau
keliatan takut di depan anak-anak, terpaksa pura-pura so berani gitu.
Pas udah di “palid-keun” sama si aa rafternya,
(rafter ini aku sebut si aa yang suka ngerafting di sungai itu, ngasal sih).
Sumpah, serem banget aliran sungainya deras dan aku lemah tak berdaya sambil
duduk di ban pelampung. Berteriak-teriak engga karuan kerudung udah gak kobe
dan semua basah tiba-tiba aku menghantam batu besar. Dwaaaarrrr !!!! ban besar
yang aku dudukin langsung kebalik kebawa arus gitu. Untungnya ada si aa rafter
yang langsung siaga ngebantuin buat ngasih tau kalo aku masih hidup.
Ternyata, engga cuman baju, celana dan sepatu
kece ku yang basah, pipi pun ikut basah terkena tetesan air mata. Bendera putih
pun berkibar menandakan kalau aku menyerah. Aku duduk dibatu bareng si aa
rafter. Pas ditanya jalan pulang kemana, katanya jauh kalo engga lewat sungai
ini. Nah loh mampus mau engga mau aku harus lewat sungai dan engga bisa lewat
darat. Setelah dibujuk sama si aa rafter yang lumayan ganteng sih akhirnya aku
mau lewat sungai itu lagi asal dipegangin tangannya sama si aa yang pake ban
juga.
Suara-suara bising pun mulai bergema. Anak-anak
BEM pada teriak-teriak pas udah ngelewatin arus sungai yang lumayan ekstrim.
Aneh nya mereka pada teriak-teriak dengan mulut lebar sehingga air sugai masuk
kemulut mereka. Ada yang masuk idung dan malah kakinya keram keseleo, rematik
asam urat dan kesemutan. Mungkin buat orang yang phobia kayak aku sih ini
bener-bener gilaks dan bikin nyaris pingsan. Tapi, aku mencoba buat tenang
pasrahin sama Allah. Disini aku bener-bener merasa sangat berani. Aku kan pake
pelampung dan helm insya allah safety. Ditambah dipegangin sama si aa
rafternya. Aweuuu...
Sempet beberapa kali terpisah sama si aa
rafternya saking deras aliran airnya. Aku ke kiri si aa nya kekanan dan
terhantam batu besar. Nyangkeud lah aku (tersendat di batu dan engga bisa
maju). Tangan aku sama si aa rafter terpisah padahal udah tinggal 3 centi lagi
mau pegangan. Apalah daya air nya deras banget dan aku engga bisa melakukan
apa-apa. Di depan udah ada aa rafter satunya lagi yang berdiri mengontrol
kondisi. Niatnya mau megang ke si aa itu eh si ban nya malah muter sendiri
gera, tangan cuman bisa megang boxer si aa nya dan celananya merosot gara-gara
aku tarik. Belum sempet aku minta maaf aku udah kebawa arus lagi ampunnnn L sieun pokoknya mah...
Dua jam mengitari sungai. Sempat beberapa kali
istirahat, pas udah mulai ke finish, aku udah engga takut lagi. Yeyeyeye..
malahan seru dan aku udah bisa mendayungkan tanganku kalo-kalo si ban nya muter
sendiri. Terus udah engga takut lagi kena batu udah bisa menghindar dan malah
so-soan muterin ban gitu kayak yang naik bom-bom car. Wahhh pokoknya seru
....
Tuesday, 3 December 2013
*Mewartakan Pengalaman Seorang Pewarta*
Berada dibarisan bangku paling depan aku memperhatikan
secara antusias seorang pria berkacamata penuh karisma di sebuah ruangan berisi
30 orang itu. Dengan sigapnya, aku mengeluarkan buku catatan dan pena biruku. Akrab
dipanggil Mas Beginu, ia merupakan wartawan senior Kompas yang memaparkan
materi penulisan media digital dalam Workshop dan Seminar "Kompas Saba
Kampus", Senin (2/12) di Kampus Universitas Khatolik Parahyangan Bandung.
Hal yang paling
menarik adalah ketika ia memaparkan kehidupan kewartawananya saat ditugaskan
meliput istana Presiden. Empat tahun lamanya ia mewarta kejadian yang berkaitan
dengan kepresidenan. Dont judge a book by its cover. Mungkin itu adalah kalimat
populer yang sering digunakan sebagai istilah yang menunjukan bahwa kita tidak
boleh melihat sesuatu hanya dari tampilannya saja. Dibalik cerita SBY mengatur
negaranya, ada kisah kegemaran SBY bernyayi, SBY berlatih pidato, kebohongan
pemerintah dihadapan publik, publisitas pemerintah, tepuk tangan dan tingkah
laku pejabat tanah air jadi bagian dari kisah kewartawanannya Mas Beginu yang
tak segan ia tulis dalam buku best sellernya. Tentunya dengan melakukan
verifikasi, rasa ingin tahu dan kejujuran yang ditegakkan.
Pemikiran "out of the box" dan naluri skeptis
yang dimiliki membuat ia mengabarkan yang tidak penting agar yang penting tetap
penting. Sungguh karya jurnalistik yang bisa dipertanggung jawabkan. Ia pandai
mengemas sebuah tulisan yang sangat menarik bagi para pembaca. Atmosfir jurnalisku
perlahan bangkit kembali setelah sebelumnya gagal di sebuah media akibat
mempertahankan keidealisan-ku. Sempat khawatir untuk melanjutkan kembali
berkarya di era konglomerasi media ini. Namun, ucapan Mas Begitu membuatku
tidak takut memegang amanat khalayak untuk menyebarkan informasi yang benar dan
relevan. Semangatku kini membara! "Not Meaning Just Money," ungkap
Mas Rene dalam seminar Importance of Passion and Creativity in Media Industry.
Kata-kata motivasi itupun menjadi energi positif kalau
uang itu bukan tujuan utama. Saat ini banyak oknum wartawan yang memanfaatkan
profesi kuli tintanya, atau sekedar menjadi buruh bagi medianya. "Apa mau
disebut wartawan amplop?" lontar Mas Beginu. Pria yang memiliki 400 lebih
tulisan di blog kompasiananya itu mengajarkan peserta untuk tidak menerima
sogokan atau pamrih seperti yang dididik Kompas kepada wartawannnya. Senang
sekali bisa mendapatkan ilmu yang sangat bermanfaat dari Kompas Kampus.
Mendapatkan pelajaran dari pengalaman berharga kewartawanan seorang jurnalis
senior. Semoga nanti saya bisa bertemu kembali dengan Mas Beginu di ruang
redaksi. Berharap besar bisa berkarya di media yang tidak memiliki kepentingan
partai seperti Kompas. Kalaupun mungkin belum bisa bergabung di Kompas,
setidaknya yang namanya "cinta" tidak harus memiliki.
Thursday, 21 November 2013
Say Big No!!!! For Today
Katanya, dengan berpuasa bisa mengajarkan seseorang untuk melatih
kesabaran. Bener gak sih? Nah buat membuktikannya dibutuhkan keberanian untuk
berpuasa. Keberanian? Puasa ini bukan sesuatu yang menakutkan. Tapi sesuatu
yang sulit untuk ditahankan. Entah berapa kali aku gagal melakukan puasa di
hari biasa. Selalu tergoda dengan lambayan tangan chiken katsu atau cordon bleu
keju.
Hari ini kuliah subuh. Tepat pukul lima setelah aku berjuang
melawan super glue yang ada di mata, usai salat subuh lekas menancapkan peluru
memori dan memusatkan titik fokus pada golden hour. Dimana matahari lagi
anget-angetnya memancarkan sinarnya.
Setelah melukiskan cahaya melalui kamera kesayangan yang
terkadang dijablaykan itu, aku langsung membantingkan tubuhku diatas kasur. Bantal,
guling, dan boneka mikeey mouse seraya memanggil mengajak bergelut dibalik
selimut.
Oh tidak, jam menunjukan pukul enam. Seandainya jatah
bolosku belum habis, aku masih ingin bermesraan dengan kehangatan selimut
chealsea-ku. Tanpa sarapan dan sudah berniat puasa sebelumnya, aku terpaksa mengelurakan
naluri pembalap.
Aku berlari menuju lantai dua, sebenarnya aku sendiri lupa
dimana ruang kelasku. Masa bodoh dengan kuliahku tahun ini. Mereka silih
bersiku dan beradu dengan jam kerjaku. Butiran keringat sedikit menggulung
diantara alis. Ritme nafas yang terengah-engah sambil membungkuk menempelkan
kedua telapak tangan di sikut kaki, aku menatap ruang kelasku. Kosong.
“Ibunya engga ada katanya cuman absen doang,” ujar seseorang.
***
07. 20 – sedikit gendok setelah maraton menaiki eskalator
kampus yang mati, akupun berniat rehat sejenak di kosan Anisa. Eh taunya si
Anisa lagi nginep dikosan Tria, ditungguin engga ada yaudah deh terpaksa
nungguin jam kelas kedua di perpustakaan. Padahal niatnya pengen memanjakan
super glue yang masih bersisa di mata. Dua kali dua puluh empat menit aku
memejamkan mata, rasanya belum cukup merefresh penglihatan dibalik kaca mata
berframe hitam ini.
Ya Allah, maafkan aku yang selalu mengeluh dan terlihat
lemah di matamu. Bukannya aku tidak bersyukur dengan waktu. Tapi kenapa, aku
selalu menjadi pemburu waktu. Kadang aku muak dengan aktifitasku ini. Ingin sebentar
saja melarikan diri dari setumpuk pekerjaan yang tak kunjung selesai. Belum lagi
tugas kuliah yang menuntutku untuk melakukan ini itu. Selalu saja kuliah
mengganggu pekerjaanku. Eh, kebalik yahh ..
Siang ini, usai presentasi industri media soal kantor
berita, aku langsung pergi ke tempat cetak album foto magazine. Eh taunya,
belum kelar dong si ebel tehh .. katanya ada satu halaman file yang
ketinggalan. Okelah, salah gue kali engga teliti. Halaman 7 nya ilang. Alhasil,
bilang sama si mas yang sedikit ganteng itu buat aku kirimkan ke email filenya.
Abis dari situ, ketempat ngedit video, eh taunya belum beres
katanya beres besok siang. Hmmm oke :} panas-panas gini, pura-pura lagi gak
puasa aja biar engga terlalu kerasa rasa.
Terpaksa dehhhh harus minta maaf sama client. Padahal udh
janjian malem mau ketemu, tapi mbaakk e file nya engga ada jadi diundur minggu
depan deh haduh engga enak. Maaf yah
Sebenernya gara-gara aku banyak kerjaan ini itu, jadi engga
puguh. Ya engga puguh otaknya aja engga puguh ditaro dimana. Bener-bener oleng,
gara-gara kurang tidur tapi pun pas markirin motor gak sengaja nyenggol motor
sebelah dan yang lainnya malah ikut-ikutan jatoh seraya mengundang orang-orang
untuk menyaksikan pertunjukan malu itu.
19.00 – Alhamdulilah, setelah selesai urusan event dengan
sebuah Mall aku bisa berbuka puasa ditemani Selvi. Sebenernya ini event
bermasalah banget menurut aku. Tapi ya sebagai EO yang pengen keliatan
profesional yah mau gimana lagi harus menutupi kekurangan itu. Harus bisa
cerdas pokoknya mah.
21.00 – Abis nongkrong dulu sebentar diangkringan bareng
sama komunitas fotografi langsung berpamitan pulang. Niat utamanya sih ngobrolin
event buat entar minggu.
22.00 - Sial, di tengah perjalanan menuju pulang, HP aing jatoh
dong dan ada cewek teriak-teriak “mbakk tadi hp nya jatoh disana,”
Urang langsung putar balik ke tempat yang ditunjukin si mbak
tadi. Alhamdulillah untung si mbak nya baik ngasih tau jadi urang bisa fast
respon ke TKP. Suasana jalanan sepi diantara pukul 11 malam aku sendirian
menyusuri tepi trotoar . yang ada sesekali kendaraan roda empat melewat memecah
kesepian.
Big No. HP tidak ditemukan. Ya Allah plisss bantu aku,
maafkan aku yang sedikit ceroboh karena seleting tas sedikit terbuka. Pas aku
liat, oh ternyata hape yang android yang jatoh bukan yang BB pantesan aku nyari
dijalan yang warna biru engga ada taunya yang jatoh hape yang item.
Ampun pengen nangis ini hampir setengah jam lalu lalang
sendirian nyari hape engga ketemu-ketemu. Sampe akhirnya aku hopeless banget
dan berhenti di pinggir trotoar sambil mematikan motor ngarenghap sakedap.
Tiba-tiba ada suara srekkkk . .. aku cari suara itu ternyata
di bawah sepatu aku menginjak sesuatu. Oh tidak, sungguh mengagetkan yang aku
injak adalah casing hape. Emakk... dimana Hpnya yang ada cuman cassingnya
doang. Makin membuatku ingin terus
menelusuri misteri ini.
Sampe akhirnya diantara cahaya jalanan sepi dan
remang-remang aku menilik-nilik sesuatu yang sedikip mengkilap dan ternyata itu
hapenya. Alhamdulilah sambil menari bara bara bere aku senang bukan main. Tapi,
batre nya engga ada. Ya ampun kasian si hitam ini udah ma jarang diisi pulsa,
jatoh berceceran pula.
Aku cari-cari lagi dan lagi, akhirnya ketemu yeah ...
dibalik tumpukan serbuk dedaunan yang jatuh aku menemukan batre itu. Sambil menyatukan
dengan badannya secara utuh, handpone itu bisa nyala kembali.
12.00
Pager rumah udah di kunci. Aku menelpon kakakku untuk
membukakannya. Sambil berjalan jinjit aku menaiki tangga dan masuk ke dalam
kamar.
Bantal, guling dan boneka mikeey mouse seakan menertawakanku
atas peristiwa hari ini. Sebenernya masih banyak hal gendok yang terjadi hari
ini cuman engga aku ceritain soalnya malah jadi bikin nambah badmood aja.
Yang jelas, hari ini bener- bener melatih kesabaran. Untung nya
lagi puasa coba kalo engga udah makan anak orang.
Subscribe to:
Posts (Atom)
