| Tak hanya untuk sekedar menikmati pemandangannya, di sini kamu juga bisa melakukan panjat tebing atau ber-camping ria. Di malam hari, kamu bisa memburu foto milky way atau menimati gelemerlap lampu Kota Bandung yang bertaburan indah. Oia, satu hal yang perlu sama-sama kita ingetin. STOP VANDALISME! Ulah curat coret, alay.. Teks & Foto @reginaristiana +Regina Aristiana |
Friday, 12 February 2016
Pengen "niis" dimana? Gunung Batu Lembang Cocok Nih!
Friday, 5 February 2016
D'pakar! Kafe Nuansa Alam di Bandung
Dago Pakar selalu jadi sudut favorit untuk menikmati keindahan Kota
Bandung. Tak jarang, dikawasan ini terdapat beragam resto dan tempat hangout
dengan menyajikan pemandangan yang menakjubkan.
Kafe ini berdiri dipinggir tebing sehingga pohon pinus dan
sejumlah pemandangan indah berupa hutan dan barisan pegunungan Tangkuban Perahu
sampai Manglayang akan menemani nikmatnya santapan di kafe ini.
Harris selaku owner
awalnya tak sengaja menjadikan halaman rumahnya sebagai kafe. Sejumlah remaja
tiba-tiba datang untuk meminta ijin berfoto-foto. Ia tidak menyangka kalau
semenjak dari situ mulai banyak yang datang dan berfoto. “Tau dari instagram
katanya,” ungkap Aa manis ini sambil mengingat kafe yang dibentuknya sejak
2011.
Karena mulai banyak yang datang, Harris memberanikan diri
untuk menjadikan halaman rumahnya sebagai kafe. Terdiri dari dua konsep, bagian
indoor Kafe ini berupa rumah tradisional yang berbentuk joglo dari kayu jati
dilengkapi dengan meja dan kursi unik yang terbuat dari kayu. Sedangkan konsep
outdoor menawarkan pemandangan perbuktian dan hutan pinus. Jarak tiap kursi
sangat lenggang. Ada yang diatas rumput, dibawah pohon dan dipojokan.
Untuk makanan yang disajikan di kafe ini memang belum
terlalu banyak.
Karna kafe ini sebenernya menjual tempat yang indah. Makanannya
terdiri dari olahan roti, mie dan nasi goreng. Untuk Minumannya berbagai
variasi susu murni dan kopi. Untuk kamu yang ingin datang ke D’Pakar Kafe, karena
kafe ini tidak buka sampai malem, Regi saranin sih dateng siang atau sore.
Wednesday, 3 February 2016
Curug Citambur, ini loh Jurasic Park-nya Cianjur!
![]() |
| Curug Citambur pas lagi mendung-mendungnya |
30 Januari 2016 (23.35 pm)
“Pokoknya jam enam teng kita berangkat ya,” ujar Selvi dimultichat telegram.
“Pokoknya jam enam teng kita berangkat ya,” ujar Selvi dimultichat telegram.
***
31 Januari 2016 (06.20 am)
Solat subuh sih iya, tapi gatau kenapa kasur narik-narik buat ngajak bobo cantik. Rencana untuk bisa berangkat sepagi-paginya nyatanya hanya sebuah wacana.
Solat subuh sih iya, tapi gatau kenapa kasur narik-narik buat ngajak bobo cantik. Rencana untuk bisa berangkat sepagi-paginya nyatanya hanya sebuah wacana.
“Udah pada bangun belum? Aku baru beres mandi nih,” Selvi langsung ngechat.
“Iya udah ko,” Aku balas.
“Iya udah ko,” Aku balas.
Engga lama kemudian, hp berdering. Holis nelpon kalo doi udah otw dan nyuruh aku buat cepet-cepet mandi. Akupun langsung lari ke kamar mandi dan engga tau kenapa tiba-tiba kamar mandi gelap banget dan pas ngebuka mata ternyata aku masih berada di atas kasur. Sialan! Mimpi…
Aku langsung ngechat holis tapi masih belum dibales-bales.
Aku langsung ngechat holis tapi masih belum dibales-bales.
(08.45 am)
“Gimana dong, holis ga ada kabar,” aku tak henti beberapa kali nge-ping di kontaknya Holis.
“Iya, aku juga udah ngajakin yang lain tapi belum pada bales,” kata Selvi yang baru sampe di rumahku.
“Iya sih, pasti pada gak bisa karena kita dadakan ya?”
“Gimana dong, holis ga ada kabar,” aku tak henti beberapa kali nge-ping di kontaknya Holis.
“Iya, aku juga udah ngajakin yang lain tapi belum pada bales,” kata Selvi yang baru sampe di rumahku.
“Iya sih, pasti pada gak bisa karena kita dadakan ya?”
Gak lama kemudian, Holis langsung nelpon
“Ahhhhh… Maafin baru bangun. Kalian udah pada berangkat ya?” kata Holis dengan nada sedikit panik
“Sia mah ih ditungguan teh! Cepetan, kita nungguin dari tadi!” ujarku sedikit kesel.
“Ahhhhh… Maafin baru bangun. Kalian udah pada berangkat ya?” kata Holis dengan nada sedikit panik
“Sia mah ih ditungguan teh! Cepetan, kita nungguin dari tadi!” ujarku sedikit kesel.
Aku dan Selvi menuju ke guesthouse tempat Ka Andri menginap. Sekitar lima menit dari rumah. Ka Andri ini kerja di Jakarta. Doi pengen jalan-jalan di Bandung terutama ke tempat yang instagrammable banget. Tapi karena kemaren kita ke Lembang dan gak menyenangkan karena penuh dan macet, aku bujuk doi untuk ikut ngejarambah ke Curug Citambur.
“Masih mau ngantri foto di depan rumah hobits? Yuk ikut aja ke Jurasic Park nya Jawa Barat!” ungkapku pada Ka Andri. Gak lama kemudian, Holis pun datang dan kita berempat langsung berangkat. (10.47 am)
Curug Citambur berjarak kurang lebih 65 Km dari pusat Kota Cianjur dan 40 Km dari Ciwidey, Kabupaten Bandung. Letak Curug Citambur cukup berdekatan dengan Kabupaten Bandung dan masih berada dalam deretan perbukitan yang membatasi Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Cianjur. Sepanjang jalan, kita disuguhi oleh pemandangan kebun teh yang vscocam banget. Siang itu cuaca sedikit mendung dan ada efek kabut-kabutnya. Amazing banget deh pokonya...
Setelah melewati kawasan Ciwidey, kami beristirahat sejenak di sebuah mesjid untuk melaksanakan shalat dzuhur. Pas lagi wudhu, airnya seger banget sesegar hati ini yang gak sabar pengen ketemu sama kamu. iya kamu Curug Citambur.
Nah, setelah melanjutkan perjalanan, sesampainya di Desa Cipelah, jalanan yang kita lewati malah terjal dan rusak. Kebayang kalo musim ujan gimana licinnya. Apalagi bawa beban kayak badan aku ini. Kasian kan motornya.
Gak cuman rusak diperparah juga dengan tanjakan yang super nanjak. Meskipun kita sedikit kesusahan karena menghadapi jalanan yang rusak, kita gak pernah ngeluh (kecuali Ka Andri) karena Aku, Selvi dan Holis udah pernah diospek waktu jalan-jalan ke Curug Malela beberapa tahun lalu.
"Ada pesawat dari sini yang langsung ke jakarta gak?" Kata Ka Andri.
Karena ngeliat Ka Andri kewalahan dan daritadi manggil-manggil tim Sar, kami pun memutuskan untuk istirahat di sebuah warung kecil.
Gak cuman rusak diperparah juga dengan tanjakan yang super nanjak. Meskipun kita sedikit kesusahan karena menghadapi jalanan yang rusak, kita gak pernah ngeluh (kecuali Ka Andri) karena Aku, Selvi dan Holis udah pernah diospek waktu jalan-jalan ke Curug Malela beberapa tahun lalu.
"Ada pesawat dari sini yang langsung ke jakarta gak?" Kata Ka Andri.
Karena ngeliat Ka Andri kewalahan dan daritadi manggil-manggil tim Sar, kami pun memutuskan untuk istirahat di sebuah warung kecil.
Sambil nunggu indomie mateng, aku ngajakin ibu warungnya ngobrol-ngobrol.
“Bu, kok banyak pungutan liar ya disetiap jalan,”
“iya neng itu mah udah biasa,”
“tapi bener itu teh uangnya buat perbaikan jalan?”
“gatau neng, tapi yang ibu tau sampe sekarang jalannya masih gini-gini aja,”
“iya neng itu mah udah biasa,”
“tapi bener itu teh uangnya buat perbaikan jalan?”
“gatau neng, tapi yang ibu tau sampe sekarang jalannya masih gini-gini aja,”
"Oh gitu ya. oia bu, kalo ke Curug Citambur berapa lama lagi ya?"
"Oh sebentar lagi,"
"Sebentar lagi itu seberapa lama lagi bu?" tanya Holis yang udah faham kalo ukuran sebentar lagi antara warga sekitar dan kita itu jauh berbeda.
"Setengah jam lagi lah, Jang," Kamipun bersemangat untuk melanjutkan perjalanan.
Karena merasa tidak yakin, Selvi memberhentikan motornya di depan sejumlah remaja yang tengah asik bercanda tawa.
"A, punten mau tanya,"
"Tanya apa teh, sini nanya ke saya aja," mereka pun silih berebutan
"Kalo Curug Citambur masih jauh ga?"
"Deket sih teh, sedeket hati aa sama teteh,"
"Ih serius atuh a,"
"Ya teh, Curug Citambur mah udah kelewat. Itu gening sebelah kanan ada gapuranya ada tulisannya. Kalo dari arah sana mah emang ga keliatan soalnya penujunjuknya menghadap ke sini," Ujar salah seorang dari mereka. Setelah mengucapkan terima kasih, kami balik arah dan lebih berhati-hati lagi untuk menemukan gapura yang diberitahu oleh si aa tadi.
(15.40 pm)
![]() |
Finally, i found it! |
![]() |
| Akhirnya sampai lah di pintu masuk Curug Citambur tepat di depan kantor Desa Karang Jaya. |
Karena kegirangan gak sabaran pengen liat Curug Citambur aku pun langsung berlari-lari melewati sawah dan beberapa tanjakan kecil. Setelah kami berfoto ria engga kurang dari 10 menit, tiba-tiba hujan gede. Kamipun langsung berlarian mencari tempat berteduh.
"Aku tau kenapa hujan, tandanya nyuruh kita buat shalat ashar dulu," ujarku mengajak yang lainnya ke sebuah mushala. Di dalam mushala ada ibu-ibu yang katanya warga setempat.
"Neng dari mana?"
"Dari Bandung, Bu," kata Selvi.
"Hati-hati neng pulangnya takut kemaleman,"
"Iya Bu, tapi di sini amankan?"
"Ih Neng puguh suka banyak begal. Komo tah dipengkolan eta poek jeung keu-eung,"
"Neng ada kenalan gak orang sini kalo bisa mah mending nginep aja. Besok pagi pulangnya," tambah ibu yang satu lagi.
Kami langsung saling bertatap meski sedikit ketakutan tapi kami serempak bilang kalo Senin harus langsung kerja. Apalagi Ka Andri yang harus pulang ke Jakarta karena senin paginya meeting di kantor. "Lahaula aja deh, Insya Allah, selamat," ungkap Holis.
Dan bener aja, sehabis kita Shalat Ashar hujan berenti dan awan seketika cerah.
"Yuk ah, jangan lama-lama biar pulangnya gak kemaleman," kata Selvi.
"Yuk ah, jangan lama-lama biar pulangnya gak kemaleman," kata Selvi.
![]() |
| Air yang jatuh dari ketinggiah 100 meter itu berbunyi bur, bur, bur, sehinga penduduk menyebut curug ini Citambur |
![]() |
| Curug Citambur ini memiliki ketinggian lebih dari 100 meter |
(17.35 pm)
Tuesday, 2 February 2016
Pesona Curug Bugbrug: Butuh Piknik? ke sini aja Ce Es!
“Mungkin,
Bandung diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum” –. Itulah sebuah kalimat yang
dipopulerkan oleh Pidi Baiq, yang menggambarkan sisi keindahan alam Bandung dan
sekitarnya. Tak hanya soal kulinernya yang selalu nge-hits dan jadi incaran, Bandung juga memiliki sejuta pesona objek
wisata alam yang tentunya punya daya tarik tersendiri.
Nah, bicara soal objek wisata, Saya mau ngasih tau tempat rekreasi yang
masih sangat asri dan belum banyak yang tau loh! Curug Bubrug namanya.
Hidden paradise yang terletak di Kabupaten
Bandung Barat ini memiliki kedalaman lebih dari delapan meter dan ketinggian
1.050 meter di atas permukaan laut. Suasana sejuk dan gemuruh suara air terjun di sini cocok untuk untuk
mengobati hiruk pikuk aktivitas atau sekedar melepas penat dan ber-selfie ria. Kalo menurut aku sih, bagi yang suka meditasi atau yoga tempat ini cocok banget.
Usai menapaki jalan kecil, kamu akan
melintasi sungai dan beberapa tebing. Sedikit lelah akan terobati setelah
mendengar gemercik air yang menandakan akan segera sampai. Ketika saya datang, Pak Mangsur (36 Tahun) dengan ramahnya menyapa dan menghampiri. Memang
belum secara resmi ada biaya tiket masuk. Namun, untuk kebersihan, Penjaga
Curug Bubrug yang sudah sejak lahir tinggal dan bertani disekitar kawasan curug
ini memunguti Rp.5000/orangnya.
![]() |
| instagram @reginaristiana |
Waktu yang tepat untuk mengunjungi
Curug Bugbrug adalah ketika musim hujan, karena volume jatuhan airnya akan
mencapai volume terbesar. Pastikan Kamu membawa bekal air dan keperluan
lainnya. Gunakan sepatu yang cocok untuk hiking
karena jalanan yang dilewati cukup licin.
Sejumlah fasilitas seperti toilet,
warung yang tersedia dikawasan ini memang belum memadai. Beberapa saung kecil
terpasang namun tak terpakai dan nampak tak terurus. Mungkin, karena jarang ada
wisatawan yang datang ke tempat ini dan masih dalam tahap pengembangan.
![]() |
| Tunggu apalagi? Persiapkan dirimu untuk menjelajahi Curug Bubrug. Tetap jaga kebersihan dan taati peraturannya ya! |
Friday, 25 December 2015
Travelling? Akibat Kurang Persiapan dan Serba Dadakan
~ Belum lulus jadi traveller kalo lo masih suka ngeluh ngadepin apa yang terjadi selama melakukan perjalanan.
Kali ini, gue mau ngomongin soal persiapan ketika lo mau melakukan perjalanan, travelling. Packing itu menunjukan kepribadian lo sebenernya. Lo harus bisa bijak memilih mana barang yang musti diprioritaskan. Perlu loh mencatat apa yang musti dibawa. Cari referensi atau riset dulu biar tau apa aja yang musti disiapin.
Kalo lo orangnya perfectionis, semua barang detail banget lo bawa bahkan hal kecil pun. Perjalanan cuman dua hari, tapi bawaan udah kayak korban pengungsian. Segala ditenteng, tas gede lah tote bag lah belum lagi keresek keresek lainnya. Ada loh orang yang kayak gini. Kalo ditanya, "ribet banget lo mau pindahan mbak?"
Pasti dia ngejawab "namanya juga jaga-jaga,"
Kalo gue sih mending bawa diri aja, kan ada kamu yang jagain aku. #kode
Kalo gue, belum pernah melakukan perjalanan dengan persiapan matang. Selalu serba dadakan. Lagi diem-diem gini nih, gabut. tiba tiba bilang "Yuk cus ke sukabumi sekarang,"
dengan prepare sejam kurang gue pun udh bisa langsung go ke luar kota.
Bahkan di path temen-temen pada komen ada yang bilang"Regi tuh manusia apa sih, sebentaran di south jakarta, di papua, makasar trus udah di bandung lagi,"
Dengan keberadaan pintu kemana saja, apapun bisa terjadi. Enya weh da Doraemon -_-
Kurang persiapan ini juga bukan hanya karena mood yg tiba tiba dapet ilham pengen ke suatu tempat. Seringnya sih, sebelum perjalanan selalu ada kerjaan.
Waktu mau ke Batam, dua hari full gue motret di Bogor.
Waktu mau ke Jogja, dari pagi liputan dulu sana sini sampe injure time buat packing.
Ah pokoknya banyak deh kesibukan gue sebelum ngelakuin perjalanan. No Boarding time!!
Alhasil barang yang semestinya gue bawa malah ga ke bawa. Misalnya, hal penting sih ini. Kamera. Karena gue pengen jalan-jalan sekalian lanskepan, gue sengaja sewa lensa wide ke pondok lensa. Mau minjem ke temen, pada dipake karena emang lagi waktu liburan.
Disela-sela liputan gue sempetin ke sana meski macet dan kepanasan pake motor. Waktu itu taman sari macet karena lagi ada wisuda disabuga. Nya panas, tunuh, nya lapar deui. Ampun dekah meni kieu-kieu teuing hirup teh..
dan taunya lensanya fullboked. adanya lensa wide buat nikon. Yaudadeh terpaksa gue sewa, dan mikir kameranya bisa pake yang di kantor karena kebetulan yang dikantor itu nikon.
Nah dari situ, gue langsung menuju studio buat pemotretan. Abis pemotreran menuju kantor, udah banyak kerjaan sana-sini. Letih, Lelah, Lapar (Astagfirullah, banyak ngeluh ni anak)
Karena emang dari kemaren dan saat itu gue sibuk ga sempet yang namanya packing, Segala barang gue masuk masukin ke bagasi mobil. Pas mau ngeluarin mobil dari garasi, di belokan jalan ada mobil parkir watados ngalangin jalan. Rumah gue emang gang banget buat mobil cuman cukup satu mobil sama satu motor. Makanya mobil baret-baret kalo gue yang make, ditambah banyak roda tukang dagang disepanjang jalan komplek rumah. (Komplek gang maksudnya)
Trus gue tanya sana sini buat nanya itu mobil siapa. Simobil sedan berplat B. Nunggu sejam lebih baru deh dateng orangnya, langsung gue marahin.
"Mas, ga mikir apa parkir seenaknya!"
Trus dia cuman senyum-senyum sambil minta maaf. Tadinya kalo masih lama mau dikempesin ban nya. Berani? iya berani ko KZL. Selvi yang sedari tadi juga sama-sama kesel langsung bilang "sabar istigfar udah jalannya harus kayak gini,"
Di situ gue langsung diem, tarik nafas meski muka masih bete ga karuan.
Di rest area pas cek bagasi mobil, baru deh teriak kalo kamera ketinggalan di kantor.
Mampus deh, kamera canon bawa lensanya nikon. Ngejodohin kamera aja gue masih teledor apalagi ngejodohin diri
Sepanjang jalan gue nyoba buat ngendaliin diri. Dan berfikir lebih jernih lagi. Lebih kalem lagi dan lebih ngambil hikmahnya lagi. Sesampainya di lokasi, gue turun turunin barang di mobil dan gue nemuin kalo si tas kamera nikon itu nyempil dideket kursi mobil ketumpuk sama barang lain.
Saking berantakannya gue packing, gue lupa kalo gue udh masukin kamera ke mobil.
Ah entahlah seketika hilang ingatan dengan kebodohan yang teramat sangat ga penting.
Dari situ gue mulai sadar kalo segala sesuatu serba dadakan ujungnya pasti berantakan. Kecuali, kalo lo lagi lucky. Tapi kalo lagi apes-apesnya ya lo bakalan kelimpungan deh..
Beberapa bulan lalu nih, waktu gue travelling ke malang naik kereta bareng temen, temen gue ngedadak datang bulan.
Jam menunjukan pukul 2 pagi. Doi panik sana sini karena ga bawa pembalut. Sementara perjalanan masih 5 jam lagi.
Setiap kereta berenti di stasiun kecil, kita langsung keluar nanya pembalut. Barang kali ada di P3K. Kita juga udh nanya nanya ke petugas kereta buat nanyain pembalut. Tapi tetep aja ga ada. Akhirnya, kita inisiatif buat nanya ke semua penumpang dari satu gerbong ke gerbong lainnya. Nyoba nanya sama penumpang yang belum terlelap. Penumpanf cewek sih. Yaialah masa "Permisi teman saya baru datang bulan, Mas bawa pembalut ga?"
ga mungkin juga kan nanya gitu.
Setelah nanya-nanya nih, seorang gadis cantik ngejawab kalo doi bawa pembalut. Akhirnya kita bisa bernafas lega dan kembali beristirahat lagi..
Semenjak dari situ, kita sering bawa pembalut kemana-mana.
Setelah banyak pengalaman sana sini, akhirnya gue sadar kalo ada beberapa barang sakral yang musti gue bawa kemana-mana. Diantaranya: Kamera, Alat Mandi, Daleman, Pembalut dan Obat-obatan. Semua barang ini selalu gue bawa kemana mana buat jaga jaga kalo tiba-tiba dadakan untuk melakukan perjalanan. Nah kalo kamu nih, barang apa yang penting dan wajib kamu bawa kalo mau travelling?
Kali ini, gue mau ngomongin soal persiapan ketika lo mau melakukan perjalanan, travelling. Packing itu menunjukan kepribadian lo sebenernya. Lo harus bisa bijak memilih mana barang yang musti diprioritaskan. Perlu loh mencatat apa yang musti dibawa. Cari referensi atau riset dulu biar tau apa aja yang musti disiapin.
Kalo lo orangnya perfectionis, semua barang detail banget lo bawa bahkan hal kecil pun. Perjalanan cuman dua hari, tapi bawaan udah kayak korban pengungsian. Segala ditenteng, tas gede lah tote bag lah belum lagi keresek keresek lainnya. Ada loh orang yang kayak gini. Kalo ditanya, "ribet banget lo mau pindahan mbak?"
Pasti dia ngejawab "namanya juga jaga-jaga,"
Kalo gue sih mending bawa diri aja, kan ada kamu yang jagain aku. #kode
Kalo gue, belum pernah melakukan perjalanan dengan persiapan matang. Selalu serba dadakan. Lagi diem-diem gini nih, gabut. tiba tiba bilang "Yuk cus ke sukabumi sekarang,"
dengan prepare sejam kurang gue pun udh bisa langsung go ke luar kota.
Bahkan di path temen-temen pada komen ada yang bilang"Regi tuh manusia apa sih, sebentaran di south jakarta, di papua, makasar trus udah di bandung lagi,"
Dengan keberadaan pintu kemana saja, apapun bisa terjadi. Enya weh da Doraemon -_-
Kurang persiapan ini juga bukan hanya karena mood yg tiba tiba dapet ilham pengen ke suatu tempat. Seringnya sih, sebelum perjalanan selalu ada kerjaan.
Waktu mau ke Batam, dua hari full gue motret di Bogor.
Waktu mau ke Jogja, dari pagi liputan dulu sana sini sampe injure time buat packing.
Ah pokoknya banyak deh kesibukan gue sebelum ngelakuin perjalanan. No Boarding time!!
Alhasil barang yang semestinya gue bawa malah ga ke bawa. Misalnya, hal penting sih ini. Kamera. Karena gue pengen jalan-jalan sekalian lanskepan, gue sengaja sewa lensa wide ke pondok lensa. Mau minjem ke temen, pada dipake karena emang lagi waktu liburan.
Disela-sela liputan gue sempetin ke sana meski macet dan kepanasan pake motor. Waktu itu taman sari macet karena lagi ada wisuda disabuga. Nya panas, tunuh, nya lapar deui. Ampun dekah meni kieu-kieu teuing hirup teh..
dan taunya lensanya fullboked. adanya lensa wide buat nikon. Yaudadeh terpaksa gue sewa, dan mikir kameranya bisa pake yang di kantor karena kebetulan yang dikantor itu nikon.
Nah dari situ, gue langsung menuju studio buat pemotretan. Abis pemotreran menuju kantor, udah banyak kerjaan sana-sini. Letih, Lelah, Lapar (Astagfirullah, banyak ngeluh ni anak)
Karena emang dari kemaren dan saat itu gue sibuk ga sempet yang namanya packing, Segala barang gue masuk masukin ke bagasi mobil. Pas mau ngeluarin mobil dari garasi, di belokan jalan ada mobil parkir watados ngalangin jalan. Rumah gue emang gang banget buat mobil cuman cukup satu mobil sama satu motor. Makanya mobil baret-baret kalo gue yang make, ditambah banyak roda tukang dagang disepanjang jalan komplek rumah. (Komplek gang maksudnya)
Trus gue tanya sana sini buat nanya itu mobil siapa. Simobil sedan berplat B. Nunggu sejam lebih baru deh dateng orangnya, langsung gue marahin.
"Mas, ga mikir apa parkir seenaknya!"
Trus dia cuman senyum-senyum sambil minta maaf. Tadinya kalo masih lama mau dikempesin ban nya. Berani? iya berani ko KZL. Selvi yang sedari tadi juga sama-sama kesel langsung bilang "sabar istigfar udah jalannya harus kayak gini,"
Di situ gue langsung diem, tarik nafas meski muka masih bete ga karuan.
Di rest area pas cek bagasi mobil, baru deh teriak kalo kamera ketinggalan di kantor.
Mampus deh, kamera canon bawa lensanya nikon. Ngejodohin kamera aja gue masih teledor apalagi ngejodohin diri
Sepanjang jalan gue nyoba buat ngendaliin diri. Dan berfikir lebih jernih lagi. Lebih kalem lagi dan lebih ngambil hikmahnya lagi. Sesampainya di lokasi, gue turun turunin barang di mobil dan gue nemuin kalo si tas kamera nikon itu nyempil dideket kursi mobil ketumpuk sama barang lain.
Saking berantakannya gue packing, gue lupa kalo gue udh masukin kamera ke mobil.
Ah entahlah seketika hilang ingatan dengan kebodohan yang teramat sangat ga penting.
Dari situ gue mulai sadar kalo segala sesuatu serba dadakan ujungnya pasti berantakan. Kecuali, kalo lo lagi lucky. Tapi kalo lagi apes-apesnya ya lo bakalan kelimpungan deh..
Beberapa bulan lalu nih, waktu gue travelling ke malang naik kereta bareng temen, temen gue ngedadak datang bulan.
Jam menunjukan pukul 2 pagi. Doi panik sana sini karena ga bawa pembalut. Sementara perjalanan masih 5 jam lagi.
Setiap kereta berenti di stasiun kecil, kita langsung keluar nanya pembalut. Barang kali ada di P3K. Kita juga udh nanya nanya ke petugas kereta buat nanyain pembalut. Tapi tetep aja ga ada. Akhirnya, kita inisiatif buat nanya ke semua penumpang dari satu gerbong ke gerbong lainnya. Nyoba nanya sama penumpang yang belum terlelap. Penumpanf cewek sih. Yaialah masa "Permisi teman saya baru datang bulan, Mas bawa pembalut ga?"
ga mungkin juga kan nanya gitu.
Setelah nanya-nanya nih, seorang gadis cantik ngejawab kalo doi bawa pembalut. Akhirnya kita bisa bernafas lega dan kembali beristirahat lagi..
Semenjak dari situ, kita sering bawa pembalut kemana-mana.
Setelah banyak pengalaman sana sini, akhirnya gue sadar kalo ada beberapa barang sakral yang musti gue bawa kemana-mana. Diantaranya: Kamera, Alat Mandi, Daleman, Pembalut dan Obat-obatan. Semua barang ini selalu gue bawa kemana mana buat jaga jaga kalo tiba-tiba dadakan untuk melakukan perjalanan. Nah kalo kamu nih, barang apa yang penting dan wajib kamu bawa kalo mau travelling?
Monday, 21 December 2015
Asiknya Main di Curug Semar, Pantai Loji Sukabumi
#Hari Kedua…
Menikmati keindahan Pantai Pelabuhan
Ratu di kala subuh.
Niatnya sih pengen gitu. Tapi, pagi
ini aku tak hiraukan alunan lagu Bill Fold yang berbisik hardcore ke telingaku. Ini gara-gara Teh Resti yang ketagihan sama aplikasi
karaoke di handphone-ku. Tadi malam, doi ngajakin nyanyi berduet bareng. Saking
lupanya gak kerasa entah berapa album lagu yang kita nyanyiin bareng di kamar.
Aku tengok Key sudah terlelap lebih dulu. Tapi tetap aja, kita bangun dengan
waktu yang bersamaan.
Sebenernya gak apa-apa sih gak usah
pagi banget menuju pantai. Toh di Palabuhan Ratu memang sulit mendapatkan
sunrise. Aku pernah menantinya di Pantai Karang Hawu, tapi matahari hanya
mengintip malu di balik bukit di ujung sana. Entah, mungkin tempat yang paling
cuco buat liat sunrise ganteng adalah Pantai Ujung Genteng. Oke. next time I’ll be there ya..

Setelah mandi dan menyeruputi
segelas milo hangat, Aku dan Key berbegas menuju Pantai Citepus. Lagi? Iya sih
ke sana lagi tapi bukan tempat yang kemarin waktu minum es kelapa. Masih di
kawasan Pantai CItepus tepatnya dekat mesjid Istiqomah, pagi ini kita nongkrong
cantik di sini. Kurang pas rasanya kalo belum menyentuh ombak-ombak lucu di
sini. Meski gak berenang, kita sengaja membasahi setengah kaki sekedar berkenalan
dengan ombak di sana. Tak lama kemudian, A Efan datang menghampiri. Aku segera
menarik tangannya dan kamipun berselfie ria.
“Kak Efan.. kita pengen main ke
Pantai Loji,” ujar Key sambil merengek seperti anak SD yang minta dibeliin es
krim. Akupun ikut merayu seperti seorang gadis yang minta dibeliin mas kawin. #eh
“Tunggu Yah, nunggu Wa Erik dulu
bawa motor,” jawab A Efan dengan selow nya. Selang beberapa menit, A Erik datang dengan
motor matiknya. Muka-mukanya sih kayak yang abis mandi. Tanpa menunggu lama, kami
berempat langsung tancap gas menuju Desa Loji, Kecamatan Simpenan, Kabupaten
Sukabumi.
Pantai Loji.
Ini kali kedua aku menuju ke sana. Jalannya
memang cukup rusak. Bukan cukup sih kayaknya emang rusak banget. Terakhir
kesana 2013 waktu masih langsing-langsingnya dan jalannya engga separah ini.
Bebatuan, licin dan berlubang. Khawatirnya nih, ban kempes karena keberatan
beban. Iya, aku nyadar body ko makanya bilang gitu..
Nah, selain sebagai tempat wisata,
Pantai Loji juga merupakan tempat ibadahnya penganut Buddha. Di sini, terdapat
sebuah vihara bernama Nam Hai Kwan Im Pu Sa atau bisa disebut dengan lebih
singkat sebagai Vihara Loji. Pas pertama dateng, ada dua patung naga berkepala
tujuh yang akan menyambut di pintu masuk. Untuk menuju puncak vihara kita harus
menapaki sekitar 300 anak tangga. Di lingkungan Vihara ini terdapat banyak
fasilitas peribadatan seperti Dewi Bumi, Dewa Bumi, Julehut, Dewi Kwan Im,
Padepokan Eyang Semar, Padepokan Prabu Siliwangi, Budha Four Face, dan yg
menarik dari vihara ini adanya Padepokan khusus untuk Ratu Pantai Selatan (Nyi
Roro Kidul). Mungkin karna lokasi nya yang dekat dengan pantai selatan kayaknya..
Makanya dibuat persembahan untuk Sang Ratu.
Setelah mampir dan tengok-tengok sebentar
ke Pantai Loji, kita segera menuju ke Curug Semar. Curug ini ada di dekat
Pantai Loji. Sebenernya sih namanya Curug Glodok eh gatau Glodog gitu ya
nulisnya. Tapi karena bentuknya mirip dengan Semar jadi lebih popular disebut
Curug Semar. Memang sangat tersembunyi karena untuk menuju ke sini kita harus parkir
di sekitar halaman rumah warga. Baru deh kita masuk ke semak belukar, areal
sawah dan hutan-hutan dengan foreground
tebing-tebing yang kece banget deh pokoknya.
Selama perjalanan kurang lebih 20
menit berjalan, kami bercanda gurau dan sesekali diam karena kelelahan.
Keringat pun mengucur deras. Namun tak sederas semangat kami yang tak sabar
ingin segera menikmati derasnya air terjun tersebut. A Efan dan A Erik memandu
kami sambil memperingati untuk berhati-hati. Jalanannya memang menanjak dan
cukup licin. Karena Aku salah pake sandal, alhasil akupun terpeleset jatuh ke
sebuah pudunan. Sambil tangan kanan menahan ke sebuah ranting, dalam waktu
bersamaan aku menahan agar kamera di tangan kiri tidak terbentur sedikitpun. A
Efan langsung mengulurkan tangannya mencoba membantu.
“Jangan selametin aku. Selametin
aja kameranya,” ungkapku sedikit berteriak. Key dan A Erik pun tertawa. Emang sih
buat aku lebih penting menyelamatkan kamera selagi mengalami luka yang tak
seberapa. Bahkan luka hati sedikitpun (ciee.. no hard feeling aja deh). Aku lebih rela kehujanan atau kepanasan
asal kamera bisa terselamatkan. Kurang berkorban apa lagi coba aku? Iya kamu. Demi
kamera.. bagiku, kamu.. penawar letihku. (pantes jomblo)
Meski kaki sedikit dadas dan memar,
aku segera berdiri dan Kami pun melanjutkan perjalanan yang katanya bentar
lagi. Tanpa mengeluh… Ayoooooo letsgoh jalan-jalan men!
Sesampainya di Curug Semar, I find that very surprising… Kita
langsung mendekat ke air terjun dan berfoto ria. Curug yang memiliki ketinggian
sekitar 10 meter ini memang punya sejarah tersendiri. Bahkan, menurut Muhammad
Arie, kuncen di sini. Konon, curug ini curug tertua dan sakral karena merupakan
pintu masuknya kerajaan jin. Tak heran, kadang ada yang datang ke sini untuk
melakukan ritual di bulan-bulan tertentu.
Dengan permisi dan tidak membuang
sampah sembarangan, kami pun menikmati suasana kesejukan gemercik air
terjunnya. Pengennya sih nyebur juga di situ. Tapi, Key menyarankan untuk tidak
basah-basahan karena takut masuk angin.
Belum lama kita bermesraan dengan
Curug Semar, sejumlah remaja datang menghampiri.
“Assalamualaikum Pak,” ungkap
mereka sambil mengulurkan tangan dan bersalaman dengan A Efan.
“Atuh ai diluar sakola mah ulah nyebat Bapak,” kata A Efan dengan
logat sundanya.
“ Oh, ternyata itu murid-murid nya A
Efan,” gumamku dalam hati. Mereka yang usianya gak jauh beda denganku langsung
berkenalan denganku. (Gak jauh beda? Iya sih dibanding sama usia Pak Efan jelas
lebih jauh bedanya hahaa…)
“Oh, jadi kalian ini baru lulus
SMA?” tanyaku sambil mengajak duduk di tepi kolam curug.
“Iya Bu,” jawabnya. Mampus deh, gue
jadi kebawa-bawa disapa ibu.
“Ih panggil teteh aja atuh, da kita
teh seumuran,” ungkapku sambil tersenyum lebar. Merekapun sedikit tertawa. Iya
tau kok tertawa karena merasa tidak percaya.
“Teh ko celananya kotor kayak yang
habis jatoh?” Tanya salah seorang gadis dari mereka.
“Iya, barusan kepeleset dikit,”
jawabku. (apanan heu’euh)
Ternyata mereka ini sengaja membawa
makanan dari rumah untuk makan bersama. Istilahnya, Botram. Meskipun makan
dengan nasi, tumis kangkung, asin dan kerupuk, makan siang kami terasa lezat
dengan kenikmatan suasana air terjun dan keakraban yang kami ciptakan dengan
singkat.
Happiness
is simple…
Nikmat itu bukan dari seberapa
mahal tempat atau makanan yang kita makan, tapi seberapa bersyukurnya kita bisa
bahagia dengan kesederhanaan dan saling berbagi kebahagiaan. Where did you get it? Di tengah kota,
belum tentu dengan hangout dan bergosip
kita akan merasakan tertawa dan bahagia yang sama.
Friday, 11 December 2015
Tersenyum di Bukit Senyum Palabuhan Ratu
#Hari Pertama
“Lihat, itu Ufo!”
“Lihat, itu Ufo!”
Aku terkejut melihat hamparan benda bertaburan di atas langit. I have never seen like that before! Sejauh
mata memandang Aku langsung tersadar kalo itu adalah pagang. Alat penangkap
ikan yang biasa digunakan oleh nelayan di kawasan Pantai Palabuhan Ratu.
Key langsung menghentikan
motornya. Ia berdiri di tengah jalan yang
sepi sambil merentangkan tangannya. Warga
Cikidang sini bilang, tempat ini adalah Bukit Senyum. Ketika siapapun berada di
atas bukit ini, pasti akan tersenyum. Begitupun mereka. Sejumlah kawanan
bermotor gede berplat B. Mereka berfoto ria sambil bercanda gurau. Bahkan, mengajak
kami ikut berfoto.
“Kang, kita
duluan ya,” Setelah sejenak melepas penat, kami melajutkan perjalanan.
“Hati-hati ya,”
Serentak mereka menjawab.
“Jangan lupa
main- main ke Bandung,” Seruku.
“Oh.. kalian dari
Bandung,” Serentak lagi.
“Kenapa? Liat
platnya F dikira orang sini ya?” Tanya Key sambil menggunakan helmnya.
“Oh, motor
pinjaman ya,” Saking kompaknya, lagi-lagi mereka menjawab serentak. Kamipun tertawa serentak.
![]() |
| Pantai Citepus dari mata ponsel, kebetulan lagi panas mencrang dan sepi-sepinya |
![]() |
| Pasirnya coklat, ombaknya cocok buat surfing |
Setelah melaju
kurang lebih 30 menit dengan sepeda motor, senang sekali akhirnya bisa bertegur
sapa dengan hembusan angin dan desiran ombak Pantai Citepus. Pantai yang
terletak di kawasan Palabuhan Ratu Sukabumi ini berpasir coklat dan memiliki
ombak yang cocok untuk surfing.
Entah keberapa
kalinya aku ke tempat ini sudah sedari kecil bahkan masih dalam kandungan,
memorable banget pokoknya. Dan aku tak pernah bosan, apalagi duduk santai menghadap
pantai sambil menyeruputi sebatok es kelapa.
Tiba-tiba ponselku
berdering, membuyarkan lamunanku.
“Dimana?” Tanya seseorang
di sana.
“Ini di Citepus.
Sebelah Istana Presiden,”
“Aku udah di
Citepus juga ini,”
“Oh, oke. Aku
udah liat. Arah jarum jam tiga ya. Sini,” Aku melambaikan tangan sambil
mematikan ponselku. Seorang pria yang sedang menelpon membalas lambaian
tanganku.
“Siapa?” Tanya key
yang sedari tadi asik melihat foto-foto dikamera.
“Temenku. A
Efan,”
“Kenal dimana? ”
“Dari Instagram
hahaa.. Galeri fotonya kece. Kayaknya doi hatam banget sama Kabupaten Sukabumi,”
“Oke. Aku
ngerti, Kamu mau minta dia jadi guide
kita kan,”Aku hanya membalas dengan senyuman flirty.
“Iya… eh itu
orangnya,”
A Efan datang menghampiri
bersama temannya bernama Erik. Baru ketemu sekali kita sudah akrab bahkan
menyapanya dengan sebutan Uwa Erik. Pria tinggi kurus dengan tubuh berlumur
tato ini seorang life guard di
sekitar kawasan Pantai Palabuhan Ratu. Wow, keren kan! Kamipun saling
bercerita.
Salah satunya membahas
Ciletuh Geopark. Baru-baru ini, tempat wisata ini emang lagi kekinian banget.
Sejumlah media televisi dengan program trip dan adventure ditambah banyaknya
hastag dimedia sosial, membuat destinasi global ini ngehits dan jadi incaran
para traveller.
Tempat ini dulunya
sebenarnya adalah laut. Namun kini telah terangkat dari bawah laut, dan
kemudian terkenal sebagai Geopark Ciletuh. Bentang alam di Teluk Ciletuh ini
memang menarik. Lansekap yang membentang berbentuk menyerupai amfiteater
raksasa yang mirip seperti tapal kuda yang menghadap langsung ke arah Samudera
Hindia. Belum lagi sejumlah air terjunnya yang mempesona.
Meski menyimpan
panorama indah, A Efan dan Uwa Erik yang sudah sekian kali mengunjungi Ciletuh,
merasa sedikit kecewa dengan pengelolaannya. Mungkin karena masih dalam tahap pengembangan
jadi masih banyak hal yang perlu diperbaiki. In any case, kita juga harus tetap
giat mengkampanyekan peduli lingkungan. Jangan sampai tempat yang dulunya
hidden paradise ini malah jadi kurang bersih dan ekosistemnya merasa terganggu
dengan pengunjung yang hanya sekedar ala-ala atau berpamer di sosial media. "Jadi, besok kita kemana nih?" Key dengan tak sabar ingin segera jalan-jalan.
Maklum, lebih dari sepekan ini kami disibukan dengan liputan sana sini. Merasa jenuh dengan hiruk pikuk deadline, Selain untuk meliput World Rafting Champion 2015, Kabupaten Sukabumi akhirnya jadi penawar letih kami :)
Saturday, 14 November 2015
Lagi Lagi Tentang Jogja
Assalamualaikum Jogja.
Meski kamu tak seindah beijing dimusim semi, tapi kamu punya ruang khusus.
Bagiku, sudut romantis itu bukan menara eifel atau london eyes di inggris.
lebih sederhana dari itu. Yaitu senyummu..

Bisa lebih dekat dan mengenali aroma tubuhmu adalah cara kreatif Allah menyayangiku. Memperhatikanmu meski dari belakang, menyembunyikan semburat haru ketika sesekali kamu menoleh kehadapanku. Mendaratkan bola matamu kearahku, saling tatap lalu aku menunduk dan mengalihkan pandanganku.
Ini bukan dejavu..
Tapi sebagian dari storyboard dimimpiku.
Aku pernah menghabiskan waktu berdua denganmu, menyatu dengan alam, bercanda gurau lalu kita sama sama berangan-angan membuat sekolah dipedalaman. Lucu, dalam bunga tidur pun masih sempatnya aku bermimpi.
Aku tak pernah berusaha menyentuhmu. Aku hanya memeluk harapan padaNya. Aku akan tetap diam, biar perasaanku jadi urusanku dengan Nya. Biarkan rindu ini tercurah di sepertiga malamku, tanpa kamu tau. diam-diam aku selalu mengeja namamu.
Kadang, aku sengaja mengulurkan tangan dan menangkap tetesan hujan. Lagi dan lagi, merasakan dingin yang larut dalam setiap tetesannya.
Sedingin sikapmu.
Entah itu caramu memendam sayangmu
atau caramu menunjukan kalau kamu tak sedikitpun menyukaiku
Ya Allah.. yang maha membolak balikan hati, aku percaya takdirmu. Engkau lebih kreatif dari sekedar itu.
Thursday, 15 January 2015
Jogja Punya Cerita
Di Taman Budaya, kali pertama kita saling berujar nama masing-masing.
Kalo emang ada yang namanya cinta pada pandangan pertama, jujur aku belum percaya hal itu.
Semua masih biasa sama seperti nuansa Mallioboro disetiap malamnya.
Kita berkelana mengitari ruas jalanan menuju Gunung Kidul ditemani sore dan petang melewati matahari tenggelam.
Kamu cuman sekedar rekan travelling di Jogja. Selebihnya biar waktu dan luang yang menyempatkan utk bertemu lagi.
Melewati lebih dari setahun, kita belum bertemu lagi.
Sesekali berkomunikasi melalui wasap, line kadang via telpon. Kadang juga kamu mengirimkan voice note suara kamu atau foto Ara. keponakan lucu mu.
Sesekali berkomunikasi melalui wasap, line kadang via telpon. Kadang juga kamu mengirimkan voice note suara kamu atau foto Ara. keponakan lucu mu.
Selebihnya aku belum mengenal kamu.
Tapi ketika aku dan kamu berada dititik jenuh kadang kita saling mengeluh. Mengeluhkan dunianya masing-masing dan saling menyemangati satu sama lain.
Tapi ketika aku dan kamu berada dititik jenuh kadang kita saling mengeluh. Mengeluhkan dunianya masing-masing dan saling menyemangati satu sama lain.
Meski baru setipis itu aku mengenalmu, ada rasa nyaman dan suka. Suka bukan berarti menyimpan perasaan yang akan tumbuh menjadi cinta.
Suka karena pemikiranmu, perangaimu dan cara ambisi mu. Selalu, membuat aku merasa dekat dengan DIA.
Suka karena pemikiranmu, perangaimu dan cara ambisi mu. Selalu, membuat aku merasa dekat dengan DIA.
Sejujurnya hati ini masih biasa aja. Toh aku juga merasa kalo kamu masih menganggap aku teman biasa. Sekalipun aku mencoba mengucapkan selamat ulang tahun diawal detik detik pergantian tahun. Itu masih biasa. Hanya "sekedar"
Aku pun tak harus menuntut atau menggerutu kala line ku hanya di read atau dibalas lama.
Aku pun tak harus menuntut atau menggerutu kala line ku hanya di read atau dibalas lama.
Aku tau tipe kamu dan aku jauh dari kriteria itu. Aku belum layak jadi muslimah solehah. Meski kamu sering bilang aku hebat, tapi ketahuilah aku tak secerdas Aisyah, Tak se taqwa Khadijah, tak serendah hati fatimah. Aku hanya berusaha hijrah menjadi seseorang yg lbh baik.
Ah sudah lah kita berteman aku sudah bangga dan bahagia.
Ah sudah lah kita berteman aku sudah bangga dan bahagia.
Tapi entah kenapa ada yang aneh.
Enam kali lebih kamu menyelinap masuk ke dalam mimpi. Bahkan tiga kali berturut-turut.
Mencampuri kehidupanku dan menjadi alasan kebahagiaan di dalam nya.
Padahal aku tak menuntut kamu untuk lancang masuk ke arena mimpiku.
Kamu merombak semua alurnya seakan dekat dan nyata.
Hingga berbekas pada rindu yang masih bias.
Rindu abstrak.
Enam kali lebih kamu menyelinap masuk ke dalam mimpi. Bahkan tiga kali berturut-turut.
Mencampuri kehidupanku dan menjadi alasan kebahagiaan di dalam nya.
Padahal aku tak menuntut kamu untuk lancang masuk ke arena mimpiku.
Kamu merombak semua alurnya seakan dekat dan nyata.
Hingga berbekas pada rindu yang masih bias.
Rindu abstrak.
Kenapa harus berturut turut kamu ada setelah aku memejamkan mata di malam harinya.
Padahal sedikitpun aku tak pernah memikirkan kamu, merindukan kamu atau berharap kamu ada dimimpiku.
Jika sekarang kamu menganggap aku teman biasa, aku pun demikian.
Padahal sedikitpun aku tak pernah memikirkan kamu, merindukan kamu atau berharap kamu ada dimimpiku.
Jika sekarang kamu menganggap aku teman biasa, aku pun demikian.
"Ya Allah, jangan sampai bayang wajahnya menyelinap diantara sujud dan dzikirku,"
Kita baru bertemu sekali. Tapi kenapa kamu mengalahkan rinduku pada Jogja.
Bersyukur lah kamu atas mimpi itu, karena semenjak itu aku menyelipkan namamu dibelantara doa ku :')
Bersyukur lah kamu atas mimpi itu, karena semenjak itu aku menyelipkan namamu dibelantara doa ku :')
Teruntuk - (R)
Thursday, 11 September 2014
Jangan Mau Magang di Majalah Gogirl!
4 Agustus - 6 September 2014
Lolos Magang Gogirl! Passion Expo
Kadang apa yang
kita inginkan tidak sesuai dengan kenyataan. Ketika seorang Uli yang sangat
obsesi ingin bergabung menjadi bagian dari crew event di Gogirl! Magazine,
malah gue yang lolos seleksi dari sekian calon magangers di Gogirl! Magazine. Satu dari belasan anak magang yang keterima.
Sebelumnya gue
emang udah pernah dateng ke acara Gogirl! Passion Expo di Gandaria City pada
tahun 2013 lalu. Itu pun ngebelain karna pengen ketemu sama editor gagas media
dan bukune yang bisa bantu gue sharing mengenai tulisan yang sampe sekarang
sebenernya belum kelar-kelar.
Dan ini menjadi
awal ketika gue harus ngelakuin apapun sendirian.
Tanpa kedua
sahabat gue yang biasa nganterin gue kemana-mana. Kedua temen gue yang biasa jadi
navigator kalo gue bingung dijalanan.
Ini Jakarta.
Terik panasnya bakalan
jadi temen gue sehari-hari. Macetnya juga oke. Oke buat diajak ribut. Tapi karna
gak mau telat dan kena marah, gue jadi sering bangun pagi. Bangun subuh
malahan. Bagi gue ini adalah suatu kebanggaan ketika gue bisa bangun pagi. Malah
ditengah malem suka cek jam takutnya gue telat bangun.
Soal tempat
tinggal, karena harga kosannya yang ga cocok sama jiwa backpaker gue, gue urungkan niat untuk tidak ngekos apalagi disekitaran deket kantor Gogirl!.
Akhirnya, numpang di rumah Om Jak sodara gue daerah Grogol, di rumah Teh Ai di Kelapa Gading, di Kosan Manda belakang Trisakti, Di kosan Uki,
dan akhirnya gue tidur dimana-mana.
Udah berasa anak
gunung yang tiap harinya bawa tas gede isi baju, peralatan mandi dan isi
laptop. Untungnya gue ga bawa kamera. Kebayang bawa kamera udah saingan aja tas
ama badan.
Hal yang paling
bikin gue geram ketika gue selalu ketiban nyasar setiap harinya. Entah itu
salah naik busway lah, salah masuk jalan lah pokoknya nyasar jadi kebiasaan gue
di awal awal minggu tinggal di Jakarta. Tampang gue yang so-soan ga mau keliatan
linglung bikin gue jadi malu buat bertanya. Dan sialnya ketika gue mau nanya
orang sebelah, si orang sebelah ini malah nanya dluan dengan pertanyaan yang
tadinya mau gue lontarin. Gue sempet mikir kalo dipenghujung kenyasaran gue
dijalanan dan gue gak dapet titik temu gue bakalan nyari taksi buat nganterin
gue ke terminal manapun trus naik jurusan Bandung. Itu jauh lebih tenang.
Tapi nyatanya,
Tuhan selalu memberikan jalan.
Seminggu, dua
minggu tinggal di Jakarta makin bikin gue gerah dan bulak balik ke Bandung
untuk menghirup udara segar. Saking sumpeknya tinggal di Jakarta. Bayangin, gue
pernah naik busway yang tiba-tiba ngelindes orang yang lagi naik motor ampe gue
telat masuk kantor. Trus pas pulang malem padahal pulang jam 9an ada yang
dicopet gitu. Ditambah ada pelecehan seksual ketika seorang pria tiba-tiba
mengeluarkan kemaluannya di depan gue. Iuuuuhhhh……
Tapi ada
baiknya, tinggal di Jakarta bikin gue lebih mandiri, lebih berani untuk solo
trip, lebih peka dengan lingkungan, lebih mikirin rute jalan dan bikin gue ga
pernah ngeluh untuk jalan kaki. Meskipun di awal-awal gue sering ngeluh tapi
sekarang gue sadar kalo itu bagian dari pembelajaran hidup gue ketika sebuah
keadaan membentuk karakter kepribadian gue untuk jadi lebih baik.
Suasana Gogirl! Magazine
Sempet minder
ketika ngeliat para karyawan Gogirl yang fasionable abis. Mereka cantik, kece
dan yang pasti cewek. Karena ini adalah majalah cewek. Tapi ada cowoknya sih
selain satpam ada juga fotografer nya yang cowok. Mas Irvan dan Mas Dimas. Cieee
Mas Dimas.
Gue sempet
sedikit maksa sama Mba Ima, Staff Recruitment ini. Gue pengen jadi panitia
dokumentasi. Tapi, perusahaan pengen yang ngedokumentasiinya cowok. Oke, apapun
jobdesk kali ini yang penting gue bisa jadi bagian dari Gogirl.
Hari pertama gue
ketemu dengan CEO Majalah Gogirl yang sebelumnya cuman bisa gue liat namanya di
majalah. Orangnya tegas, disiplin dan bikin menegangkan diawal. Mbak Nina ini kece abis deh kalian musti baca bukunya “No
One To Someone”
Selagi di
Gogirl, gue sering ngedeketik staff sana untuk ditanya kerjaannya ngapain aja. Dari
mulai mbak Sahnat, Mbak Mora, Mbak Dian, Mas Eko dan masih banyak lagi.
Dibagian redaksi, gue dikasih tau Mbak Sahnat sang reporter mengenai konten-konten majalah, script writing, advertorial, dan juga tips-tips. Karena majalah Gogirl itu emang gaul banget, jadi reporternya musti jago bahasa Inggris. Tapi sebenernya sih ini udah tuntutan reporter dimanapun bekerja. Musti pandai komunikasi. Oia, Mbak Sahnat juga berbagi pengalamannya ketika liputan. Dulu pernah mewawancarai Jokowi ketika masih menjadi capres dan itu pengalaman yang engga biasa. Gogirl kan segmen dan bahasannya remaja banget (Fashion, Music, Makeup, Love,dll) issu ringan remajalah ya pokoknya mah.., tiba-tiba ada issu politik jadi Mbak Sahnat musti banyak tau soal politik gak mau dong salah nanya atau keliatan kurang pengetahuan. Tapi kebukti, meskipun susah banget ketemu sama Capres pada masanya ini, Mba Sahnat bisa deh mewawancarai beliau. Doi juga ngerasa beruntung bisa jadi reporter di Gogirl karena bisa ketemu seleb favorit nya bahkan mancanegara dan selain itu... traveling gratissss cuy!
Selain itu, ada Mbak Bunga sang editor kalem. Dia ini yang mengoreksi tulisan termasuk cerpen-cerpen yang masuk ke Gogirl. Ada juga Mbak Dian, cewek berambut pendek lulusan DKV Binus ini jadi layouters disana. Doi ini kreatif banget dan jiwa art nya udah nge-gogirl banget.
Nah karena gue magang di divisi khusus event Passion Expo, gue dikasih jobdesk sebagai LO Tenant. Jadi dikasih tanggung jawab ngurusin sepuluh lebih lah tenant-tenant yang nanti bakalan ngisi booth di fashion expo. Gogirl pasion expo ini merupakan event tahunan dari Gogirl dengan mengadakan berbagai kompetisi, exhibition termasuk music performa. Ada tenant fashion, food, drink, dll... Ya cukup "riweuh" juga sih karena harus bisa menjawab dan ngejelasin rules dan kerjasamanya seperti apa. Juga nanti harus bantu loading barang dan closing.
Selain itu, ada Mbak Bunga sang editor kalem. Dia ini yang mengoreksi tulisan termasuk cerpen-cerpen yang masuk ke Gogirl. Ada juga Mbak Dian, cewek berambut pendek lulusan DKV Binus ini jadi layouters disana. Doi ini kreatif banget dan jiwa art nya udah nge-gogirl banget.
Nah karena gue magang di divisi khusus event Passion Expo, gue dikasih jobdesk sebagai LO Tenant. Jadi dikasih tanggung jawab ngurusin sepuluh lebih lah tenant-tenant yang nanti bakalan ngisi booth di fashion expo. Gogirl pasion expo ini merupakan event tahunan dari Gogirl dengan mengadakan berbagai kompetisi, exhibition termasuk music performa. Ada tenant fashion, food, drink, dll... Ya cukup "riweuh" juga sih karena harus bisa menjawab dan ngejelasin rules dan kerjasamanya seperti apa. Juga nanti harus bantu loading barang dan closing.
At The Last Time
Detik-detik
ninggalin Gogirl, entah kenapa berasa berat banget. Udah mulai akrab sama
karyawan sana, udah mulai ngerasa kekeluargaan banget sama anak-anak magang. Dan
udah mulai terbiasa dengan Jakarta. Padahal gue udah ngafalin 12 koridor
busway. Dan bangganya, ketika orang lain nanya jalanan ke gue, gue udah
langsung hafal gitu.
Lo mau kemana? Ke
arah mana? Sini gue kasih tau jalannya ….
Tapi gue ga mau
sombong juga sih, sebenernya ini berkat waze. Waze yang nemenin gue kala
tersesat dan tak tau arah.
Dan didetik
akhir, bikin gue termotivasi untuk pengen jadi bagian crew Gogirl Magazine. Sebagai
seorang reporter dan Mbak Sahnat, jadi inspirator gue yang bikin gue makin semanget
untuk terus belajar dan berusaha. Tapi, kalo pun nantinya gue ga jadi bagian
dari crew Gogirl, seengganya gue bersyukur dapet kesempatan untuk dapet banyak
pelajaran di sana. Di kantor yang seruuuuuuuuu abis…..
Terima kasih Ya
Allah, dengan cara kreatif-Mu untuk membuatku jadi lebih baik.
Papah yang udah
ngijinin anaknya mencar ke Jakarta.
Tempat
penginapan dimanapun gue tidur makasih udah mau ngasih tumpangan
Makasih busway, makasih
e-ticket, makasih si mungil jahil yang tak kasat, makasih kereta commute line, makasih taksi dan voucher dari kantor,
makasih juga tas ransel milik Cora yang lo pinjemin ke gue, makasih buat Selvi
dan Uli yang selalu nyemangetin dan mau dengerin keluh kesah gue, makasih juga
buat si moodbooster, buat semua anak magang dan semua karyawan staff Gogirl
Magazine. :’)
Pokoknya jangan mau magang di Majalah Gogirl, susah ngelepasinnya saking betahnya....
Pokoknya jangan mau magang di Majalah Gogirl, susah ngelepasinnya saking betahnya....
Subscribe to:
Posts (Atom)


















